Ghobro » info

Kesultanan Siak

Dimuat
Komentar Tak-satupun

Kesultanan Siak merupakan kerajaan besar di Sumatera Timur. Pada mulanya bersaing dengan Riau Lingga dalam memperebutkan hegemoni kekuasaan Johor, kemudian berdiri sendiri dan mengembangkan kekuasaannya di Sumatera Timur, berhadapan dengan Kesultanan Aceh.

Pendirian

Kerajaan Siak berdiri pada tahun 1723 berdasarkan kesepakatan antara Raja Kecil dengan Tengku Sulaiman. Raja Kecil dengan bantuan Minangkabau pada tanggal 21 Maret 1717 berhasil merebut takhta Kerajaan Johor. Tetapi dengan bantuan Bugis yakni putera ketiga Raja Luwuk Daeng Relak alias Opu Tanriburung dan kelima anaknya : 1) Daeng Perani (Berani) 2)Daeng Menambung 3) Daeng Merewah 4) Daeng Celak (Pulai) 5) Daeng Kemasi, Tengku Sulaiman berhasil menyingkirkan Raja Kecil.

Berdasarkan kesepakatan, Kesultanan Johor dibagi dua :

  1. Kerajaan Riau di Pahang, meliputi Pulau-Pulau Riau,Lingga, Negeri Johor dan Negeri Pahang di bawah Raja Suleman dengan gelar Sultan Suleman Badrul Alamsyah.
  2. Kerajaan Siak di Buantan, meliputi jajahan Johor di pulau Sumatera dan pulau yang berhampiran mulai dari Karimun di bawah Raja Kecil dengan gelar Sultan Abdul Jalil Rahmatsyah.

Alat kebesaran seperti nobat dan orang-orang jadi jawatan di bagi dua, masing-masing di Siak dan Pahang ada Suku Bintang dengan kepala Jenang sebagai pemasang meriam nobat dan orang Bulan yang dinamakan Bulan Biduanda.

Siak sebelum Raja Kecil

Siak merupakan daerah rawa yang pada mulanya tidak diperhitungkan. Daerah ini dibuka oleh Pagaruyung dan berkembang menjadi negeri besar di bawah pemerintahan Maharaja Parameswara. Setelah Kampar dikalahkan, Sultan Mansyursyah memerintahkan  Seri Udana menyerang Siak. Maharaja Parameswara tewas, anaknya Megat Kudu tertawan. Setelah Megat Kudu menjadi menantu Sultan Mansur Sah dengan menikahi Raja Mahadewi, Megat Kudu dijadikan raja Siak dengan gelar Sultan Ibrahim dibantu Seri Udana sebagai Perdana Menteri, dan Tun Jana Pakibul sebagai Mangkubumi. Sejak saat itu, Siak menjadi bagian dari Malaka.

Sultan Ibrahim kemudian digantikan anaknya Raja Abdullah pada masa Sultan Mahmudsyah I (Johor) dengan gelar Sultan Khoja Ahmad Syah. Pada tahun 1596-1662, Siak dipimpin oleh putra raja Johor Sultan Ali Jallo Abdul Jalil, yakni Raja Hasan. Tetapi setelah kematian Raja Hasan, Johor menghapus kerajaan Siak karena dianggap tidak ekonomis.

Siak pada masa Raja Kecil

Pada masa Raja Kecil, wilayah Siak hanya meliputi :

  1. Buantan
  2. Gassib
  3. Senapelan
  4. Sejaleh
  5. Perawang
  6. Sakai
  7. Petalangan
  8. Tebing Tinggi
  9. Senggoro
  10. Merbau
  11. Rangsang
  12. Siak Kecil
  13. Siak Besar
  14. Betung
  15. Rempah

Penaklukan Rokan Hilir

Setelah Siak kuat, Raja Kecil mengadakan penyerangan ke Johor pada periode 1724 – 1726. Dalam sebuah pertempuran di Kedah, Raja Kecil menewaskan Daeng Perani, tetapi gagal menguasai Kedah, tetapi Siak berhasil menguasai wilayah Rokan bagian hilir yakni Tanah Putih, Bangko dan Kubu.

Penjajahan Sumatera Timur

Pada tahun 1784-1810, di Siak berkuasa Said Ali yang merupakan putra Sayid Syarif Usman dengan Tengku Embung Badariah dengan gelar Sultan Asysyaidis Syarif Ali Abdul Jalil Baalawi. Sejak itu Siak diduduki dinasti Sayyid. Pada masanya, Siak berhasil menjajah Sumatera Timur yang kemudian disebut 12 jajahan Siak, yakni :

  1. Kotapinang
  2. Pagarawan
  3. Batubara
  4. Bedagai
  5. Kualuh
  6. Panai
  7. Bilah
  8. Asahan
  9. Deli
  10. Serdang
  11. Langkat
  12. Tamiang

Kekuasaan Siak di Sumatera Timur berganti-ganti dengan Aceh, sehingga raja-raja di Sumatera Timur kadang-kadang menyebut “beraja ke Aceh bersultan ke Siak” dan kadang-kadang “beraja ke Siak, bersultan ke Aceh” tergantung yang kuat di antara Aceh dan Siak.

Penaklukan Kampar

Pada tahun 1797, Said Ali mengirim Sayid Syihabuddin menyerang Pelalawan Kampar, tetapi gagal. Tahun 1798, Said Ali mengirim adiknya, Sayid Abdurrahman yang berhasil menaklukkan Pelalawan. Sayid Abdurrahman menjadi raja Pelalawan dengan gelar Syarif Abdurrahman Fakhruddin (1798 – 1822).

Lepasnya Bengkalis

Pada masa Said Ismail, Tengku Do gelar Yang Mertuan Dilaut dari Bangko, Kubu dan Tanah Putih dan Tengku Putera memberontak. Pemadamannya dibantu oleh Inggris yang dipimpin Wilson. Wilson meminta Bengkalis sebagai upahnya. Untuk mengusir Wilson, Said Ismail bekerja sama dengan Belanda yang akhirnya menyepakati Traktat Siak (1 Februari 1858).

Riwayat Islam Pulau Perca : Perluasan Islam

Penulis
Kategori Sejarah Islam, Sejarah

←LamaBaru →