Ghobro » info

Riwayat Minangkabau menurut Hikayat Pasai

Dimuat
Komentar Tak-satupun

Penaklukan yang tidak sempurna

Setelah gemilang membalaskan penghinaan terhadap puterinya dengan menghancurleburkan Pasai, dalam perjalanan pulang Majapahit menaklukkan Jambi dan Palembang. Keberuntungan bagi Majapahit, Penghulu Bendahari Singapura berkirim surat ke Majapahit. Maka dengan bantuan dari dalam oleh Sang Rajuna Tajuna, Majapahit menaklukkan Singapura berikut jajahannya di laut yakni tokong-tokong pulau: Tambelan, Siantan, Jemaja, Bunguran, Serasan, Subi, Pulau Laut, Tiuman, Pulau Tinggi, Pemanggilan, Karimata, Belitung, Bangka, Lingga, Riau, Bintan dan Bulan. Setelah itu jajahan darat : Sambas, Mempawah, Sukadana, Kotawaringin dan Banjarmasin. Selanjutnya ditaklukkan pula Pasir, Kutai dan Brunai. Dengan penaklukan-penaklukan tersebut, Majapahit merupakan penguasa Laut Melayu (Selat Malaka, Laut Cina Selatan dan Selat Malaka) dan Laut Jawa serta Laut Sulawesi.

Setelah dua musim angin, Majapahit menaklukkan Pulau Bandan, Siran dan Kerantoka. Dalam perjalanan pulang, ditaklukkan pula Bima, Sumbawa, Selaparang, Bali dan Belambangan. Dengan penaklukan tersebut, hampir seluruh negeri di Nusantara berada dalam genggaman Majapahit. Tetapi ada tertinggal satu  kerajaan di Pulau Perca yakni kerajaan Pagaruyung.

Meski telah menjadi maharaja besar, tak ayal ini menjadi pikiran Sang Nata Majapahit. “Semua negeri sudah habis takluk, melainkan Pulau Perca saja yang belum. Baiklah aku menyuruh Pulau Perca dengan satu hikmat, yakni mengadu kerbau.” Dipanggillah Patih Gajah Mada untuk membawa kerbau besar Betara Majapahit dengan pesan, jika kerbau Patih Suatang kalah, taklukkanlah, tetapi jika kerbau Majapahit yang kalah, segeralah kembali ke Majapahit.

Mengadu Kerbau

Berangkatlah Gajah Mada didampingi tiga penggawa Temenggung Macan Negara, Demang Siang Perkasa dan Sena Nata Anglaga serta penggawa kecil Ngabehi, Aria, Lurah, Bebekala, Patinggi dan Kebayan dengan bala tentara sebanyak dua keti. Jumlah ini lebih sedikit dibandingkan dengan penaklukan Singapura yang membawa tiga keti tentara. Hal ini, karena Majapahit pernah kalah oleh Singapura.

Gajah Mada dan rombongan berlayar dari Majapahit dan tiba di negeri Jamban. Dari Jamban memudiki sungai ke ulu Jamban. Dari Ulu Jamban, bergerak ke Pariangan. Lalu naik ke darat. Di Pariangan, Gajah Mada membuat pesanggrahan.

Setelah pesanggrahan selesai, dikirimlah utusan ke Patih Suatang menyampaikan maksud Patih Gajah Mada. Patih Suatang meminta tempo tujuh hari. Patih Suatang bermufakat dengan Patih Ketumanggungan akal untuk mengalahkan kerbau Majapahit yang besar. Dan dari permufakatan tersebut, diambil keputusan untuk melawan dengan anak kerbau yang pada hari kelima dikurung tidak diberi susu.

Pada hari yang dijanjikan, terjadilah pertandingan itu. Rakyat berbondong-bondong menyaksikan hingga medan sesak oleh penonton.

Taruhan

Sebelum pertandingan dimulai dibacakanlah taruhan oleh tiga penggawa Majapahit, yakni Jika kerbau Majapahit kalah, kami sekalian orang Jawa memakai kain cara perempuan sampai ke mata kaki dan jikalau tuan-tuan kalah, hendaklah tuan takluk ke Majapahit.

Baiklah”, kata Patih Suatang.

Dilepaskanlah kerbau besar Majapahit. Kerbau tersebut seperti singa mencari mangsa di medan.

Anak kerbau Pagaruyung dilepaskan oleh Patih Suatang. Anak kerbau yang sangat lapar dahaga tersebut menyerbu secara kilat mengisap kerampang kerbau besar itu, mengisap buah peler kerbau itu tidak mau lepas-lepas.

Kerbau besar terpusing-pusing tiada berdaya. Hendak menanduk tidak bisa karena di bawah kerampangnya. Lari ke sana kemari tiada dilepaskan juga buah pelirnya oleh anak kerbau kecil itu. Kerbau besar itu pun menjerit-jerit menggulingkan diri. Kalahlah kerbau raja Majapahit itu.

Pesta Berdarah

Tiga penggawa Majapahit kemalu-maluan hendak kembali. Tetapi, Patih Suatang dan Patih Ketumanggungan menahannya, mengajak minum makan dulu barang dua hari.

Patih Suatang menyembelih beratus-ratus kerbau, lembu, kambing, itik dan ayam. Untuk wadah minumannya,  buluh telang yang ujungnya ditajamkan.

Sesuai dengan tata caranya, bersantap-santaplah dalam perjamuan tersebut. Setelah jamuan makan selesai, berdirilah segala hulubalang dan rakyat Pagaruyung membawa minuman, setiap orang seruas buluh telang.

Orang Jawa hendak menyambutnya, tetapi ditegah rakyat pulau Perca itu, “ Tiada demikian adat kami, melainkan kami jua yang menuangkannya ke mulut tuan-tuan, akan memberi hormat jamu kami.” Maka sekalian kiai-kiai Jawa, mengangakan mulutnya.

Tabuh berbunyi. Sekalian rakyat Perca menuangkan lalu meradakkan ke kerongkongan orang-orang Jawa. Setengah dari prajurit Majapahit mati, setengah lagi melarikan diri.

Bengkudu Condong, Padang Busuk, Minangkabau

Dalam padang itu, banyak pohon bengkudu. Semuanya habis condong ke timur karena dilanggar rakyat Jawa yang melarikan diri. Hingga sekarang, jika tumbuh anak bengkudu itu condong ke timur juga.

Mayat segala Jawa itu busuklah di padang tempat perjamuan tersebut. Maka sampai sekarang disebut Padang Si Busuk. Tempat mengadu kerbau tersebut disebut Negeri Minangkabau.

Segala rakyat Jawa yang selamat itu dengan masygul berlayar dari Jamban ke Majapahit dan mengadu ke Sang Nata. Sang Nata tidak mampu berkata-kata karena masygulnya.

=======================

Daftar Isi Hikayat Raja-Raja Pasai

=======================

Terkait

Penaklukan Singapura oleh Majapahit

Penulis
Kategori Hikayat, Sejarah

←LamaBaru →