Ghobro » info

Suku Pedalaman Perca

Dimuat
Komentar Tak-satupun

Masyarakat Perca (Sumatera) berdasarkan geografisnya digolongkan pada tiga golongan, yakni :

  1. Orang Laut
  2. Orang Pesisir
  3. Orang Darat

Orang-orang Pesisir di Perca ketika Islam masuk, memutuskan untuk memeluk agama Islam, tidak demikian dengan Orang Laut dan Orang Darat. Mereka masih banyak mempertahankan keyakinan Hindu Budhanya, yakni :

  1. Orang Laut di Enok (Riau), Kepulauan Lingga (Kepulauan Riau), Orang Mesuku di Siantan (Pulau Tujuh), Orang Akit di Rokan mempertahankan agama Budha dan agama Hindu penyembah Dewa Surya (matahari).
  2. Orang Batak (Silindung, Toba, Humbang, Samosir) mempertahankan agama Hindu Parmalim.
  3. Orang Karo mempertahankan agama Hindu Perbegu.
  4. Orang Simalungun di Hulu Asahan.
  5. Orang Pakpak di tanah Pakpak.
  6. Orang Nias di Kepulauan Nias.
  7. Orang Mentawai di Kepulauan Mentawai.
  8. Orang Lubu di Rao, Padang Lawas, Batang Toru.
  9. Orang Sakai di Mandau Riau.
  10. Orang Bonai di Rokan Hulu Riau.
  11. Orang Hutan di Bengkalis Riau.
  12. Orang Talang Mamak di Indragiri dan Jambi.
  13. Orang Kubu di Indragiri, Jambi, Palembang dan Lampung.

Orang Laut

Orang Laut merupakan kaum yang sejatinya tinggal di dalam perahu. Pada umumnya mereka takluk dan setia pada kerajaan Melaka dan Johor. Orang Laut aslinya pengikut Budha dan Hindu penyembah Dewa Surya (matahari), tetapi telah banyak yang berpindah keyakinan kepada islam.

Sebutan

Sebutan untuk Orang Laut adalah Orang Selat, Orang Kuala, Orang Kajang (nama perahu), Orang Sampan,

Kaum-kaum Orang Laut:

  1. Mah Meri, berasal dari pulau-pulau di selatan negeri Johor. Saat ini tinggal di pantai selatan Selangor dari Sungai Pendek hingga pulau Carey dan segelintir di seberang Sungai Klang.
  2. Orang Barok, berasal dari Pulau Lipan dan Pulau Singkep, Kepulauan Riau.
  3. Orang Muka Kuning, berasal dari Muka Kuning Batam. Kaum ini diperkirakan telah pupus.
  4. Orang Akit, berasal dari Johor, bermigrasi ke Muara Rokan, Riau.
  5. Orang Bintang  (Bentan), berasal dari pulau Bintan Riau, adalah suku yang dianggap pemilik ulayat Bintan. Kaum ini adalah kaum yang menobatkan raja-raja Melayu, terakhir adalah raja-raja Johor Riau dan Siak. Kaum ini sudah pupus, berasimilasi dengan Melayu.
  6. Orang Bulan (Bulang), berasal dari Pulau Bulang (sekarang termasuk Batam), adalah suku yang dianggap pemilik ulayat Bulang. Kaum ini adalah kaum yang menobatkan raja-raja Melayu, terakhir adalah raja-raja Johor Riau dan Siak, sama seperti Orang Bentan. Kaum ini sudah pupus, berasimilasi dengan Melayu.
  7. Orang Biduanda Kallang, dianggap pemilik ulayat Singapura. Sama seperti Orang Bentan dan Bulang, adalah kaum yang menobatkan raja-raja Melayu. Tahun 1819, Rafles mendapatkan 500 KK kaum ini di Sungai Kallang dan Sungai Singapura. Tahun 1824, Temenggung Johor memindahkan 100  KK ke Sungai Pulai, Johor, tetapi meninggal karena cacar. Kaum ini sudah pupus, berasimilasi dengan Melayu.
  8. Orang Galang, berasal dari Pulau Galang (sekarang termasuk Batam). Merupakan tentara kerajaan Johor Riau. Sudah pupus, terasimilasi dengan Melayu.
  9. Orang Kopit, dari Kampung Kopit Pulau Sentosa, Singapura. Dahulu adalah biduan kerajaan Johor Riau. Pupus terasimilasi dengan masyarakat Melayu.
  10. Orang Mantang, dari Pulau Mantang, Kepulauan Riau. Merupakan tukang-tukang senjata Johor Riau (Sisanya berada di sekitar Pulau Batam, Bintan, Mantang dan Kelong).
  11. Orang Mepar, dari Pulau Mepar, Kepulauan Riau. Merupakan pembawa surat Johor Riau ke negeri tetangga. (Sisanya di sekitar Pulau Mapur, Kelong dan Toi).
  12. Orang Sugi, dari Pulau Sugi, Sugi Bawah, Sugi Darat dan Sugi Laut, Kepulauan Riau. Merupakan pengayuh kapal-kapal perang Johor Riau. Sudah pupus terasimilasi dengan Melayu.
  13. Orang Terong (Trong), dari  Pulau Terong, Kepulauang Riau. Juga pengayuh kapal-kapal perang Johor Riau. Sudah pupus terasimilasi dengan Melayu.
  14. Orang Tambus/Tambusa, dari Kepulauan Lingga. Merupakan penjaga anjing-anjing perburuan Kesultanan Johor Riau. Di Malaysia sudah pupus, terasimilasi dengan Melayu. Di Indonesia masih ada.
  15. Orang Gelam, dari Kampung Gelam, Sungai Singapura. Lelaki tukang kapal, wanita penjual buah-buahan. Pupus terasimilasi dengan Melayu.
  16. Orang Kanaq, dari Kepulauan Riau lari ke Johor. Sisa sebanyak 83 orang dijumpai di Kampung Sungai Selangi, Mawai, Kota Tinggi Johor. Semuanya sudah Islam.
  17. Orang Kuala (Desin Dolaq), dari Bengkalis, Riau. Terdapat di Pulau Bengkalis, Muara Siak dan pesisir pantai berhampiran, Batu Pahat Johor (Kuala Rengit, Kuala Senggarong, Tanjung Segenting), Pontian Johor (Kuala Benut, Kuala Sungai Pontian, Kukup). Hampir pupus terasimilasi dengan Melayu.
  18. Orang Ladi, dari Pulau Ladi Kepulauan Riau. Sudah pupus terasimilasi dengan Melayu.
  19. Orang Moro, dari Pulau Moro, Moro Darat, Moro Laut dan Moro Tengah Kepulauan Riau. Pupus terasimilasi dengan Melayu.
  20. Orang Laut Kappir, dari Kepulauan Riau, menetap di Krabi, Thailan (Pulau Lanta Yai dan Pulau Lanta Noi). Disebut kapir karena tidak Islam.
  21. Orang Sabimba, dari Johor. Telah pupus.
  22. Orang Teluk Nipah, dari Teluk Nipah dan Pulau Nipah, Kepulauan Riau. Sisanya sudah beragama Islam dan menetap di darat melalui program provinsi Riau.
  23. Orang Sengkanak, dari Pulau Daik dan Pulau Singkep, Kepulauang Riau. Masih menganut Hindu/Budha. Budaya dan cara hidup sama dengan orang Mantang, Tambus, Posik dan Sebarok.
  24. Orang Seletar, dari Pulau Seletar dan muara Sungai Seletar Singapura. Termasuk golongan penduduk penetap awal Singapura seperti Orang Selat, Biduanda, Kopit, Gelam. Sebagian besar Orang Seletar pindah ke Sungai Pulai Johor pada masa Sultan Abu Bakar. Orang Seletar di sekitar Sungai Kallang Singapura pada tahun 1930 dipindahkan ke Kampung Melayu dan terasimilasi dengan masyarakat Melayu.
  25. Orang Selat, merupakan penduduk awal Singapura. Sebagian besar pindah ke Melaka dan menjadi moyang sebagian besar masyarakat Melayu Malaka, sisa orang Selat di Singapura pupus pada tahun 1930 karena terasimilasi dengan orang Melayu.
  26. Orang Posik, berasal dari Pulau Posik / Persik / Pusek, Pulau Singkep dan Pulau Daik. Mereka penganut Hindu/Budha, dengan budaya seperti Orang Mantang, Tambus, Sebarok dan Sengkanak.
  27. Orang Sebarok, berasal dari Pulau Sebarok Singapura, hijrah ke Pulau Daik dan Singkep.
  28. Orang Sekah, berasal dari Sekah Bangka Belitung. Disebut juga Orang Sekak, Orang Sekat, Orang Sika.
  29. Orang Nanga, berasal dari Pulau Nanga Kepulauan Riau.

Orang Batak

Asal Usul Nama

Nama Batak merupakan nama yang diberikan oleh orang-orang Aceh untuk masyarakat pedalaman yang berada dalam wilayah kesultananannya pada saat jaya-jayanya Kesultanan Aceh. Secara umum, ada 4 golongan orang Batak :

  1. Batak Utara, terdiri dari orang Karo dan Pakpak.
  2. Batak Timur, terdiri dari orang Simalungun.
  3. Batak Selatan, terdiri dari orang Tapanuli.
  4. Batak Kepulauan, terdiri dari orang Nias dan Mentawai.

Di antara orang-orang Batak tersebut yang meneguhkan istilah Batak sebagai etnis antropologis adalah orang Tapanuli Utara (Silindung, Humbang, Toba, Samosir) sehingga kemudian Nias dan Mentawai dikeluarkan dari sebutan Batak, dan sebagian masyarakat Karo, Pakpak dan Simalungun kemudian menolak disebut Batak.

Dengan pengkhususan tersebut, maka orang Batak sebagai berikut :

  1. Orang Silindung, masyarakat yang berdiam Dataran Tinggi antara Sipirok dan Danau Toba di Kabupaten Tapanuli Utara.
  2. Orang Toba, masyarakat yang berdiam di pinggiran Danau Toba Kabupaten Toba Samosir.
  3. Orang Samosir, masyarakat yang berdiam di Pulau Samosir Kabupaten Samosir.
  4. Orang Humbang, masyarakat yang berdiam di perbukitan antara pesisir Tapanuli dan Danau Toba.

Secara garis besar orang Batak dapat dikatakan masyarakat Tapanuli Darat yang teguh mempertahankan agama Hindu Parmalim saat Islam memasuki Kesultanan Fansur. Setelah Perang Padri, banyak orang Batak yang menganut agama Kristen sehingga Batak kemudian identik dengan Kristen. Perkembangan Kristen menjadi pesat pada masa Orde Baru karena Hindu Parmalim tidak diakui.

Orang Pakpak

Suku Pakpak merupakan masyarakat yang berdiam di pedalaman Singkil yang berbatasan dengan Karo di sebelah Timur. Hubungan antara masyarakat Pakpak dan Batak terhalang oleh Danau Toba dan pegunungan dan baru terbuka setelah dikuasainya Tanah Batak dan Pakpak oleh Belanda. Secara bahasa, orang Pakpak berhubungan dekat dengan Suku Gayo, Alas dan Karo.

Orang Pakpak juga mempengaruhi sejarah Simalungun karena tanah Pakpak merupakan jalur yang menghubungkan Simalungun dan Singkil.

Orang Pakpak dibagi atas lima suak, yakni :

  1. Klasen, berdiam di Parlilitan, Kabupaten Humbang Hasundutan.
  2. Simsim, berdiam di Kabupaten Phakpak Barat.
  3. Boang, berdiam di Singkil dikenal kemudian sebagai Suku Singkil.
  4. Pegagan, berdiam di Sumbul Kabupaten Dairi.
  5. Keppas, berdiam di Sidikalang Kabupaten Dairi.

Agama asli orang Pakpak adalah Hindu Sipelebegu. Agama Islam memasuki tanah Pakpak dari Singkil. Oleh karenanya, selain Suak Boang yang menjadi Suku Singkil, yang paling banyak memeluk Islam adalah dari suak Simsim. Sementara banyak Pakpak sekarang yang telah memeluk agama Kristen terutama pada masa Orde Baru karena Hindu Sipelebegu tidak diakui negara.

Orang Karo

Kemiripan kata Karo dengan Haru telah membuat hipotesis bahwa kata Karo dan Haru identik. Haru kemudian didefinisikan sebagai cikal bakal Langkat.

Suku Karo merupakan penghuni Dataran Tinggi Karo yang terletak di Hulu Langkat, oleh karenanya masyarakat Melayu Langkat, Deli dan Serdang banyak yang asalnya keturunan Karo. Masyarakat Karo terbagi atas lima Merga, yakni :

  1. Karo-Karo
  2. Tarigan
  3. Ginting
  4. Sembiring
  5. Perangin-angin

Karo dipimpin oleh lima Sebayak, yakni :

  1. Lingga, terdiri dari Urung XII Kuta (Kabanjahe),Urung III Kuru (Lingga), Urung Naman (Naman), Urung Tigapancur (Tigapancur), Urung Teran (Batukarang), Urung Tiganderket (Tiganderket).
  2. Barusjahe, terdiri dari Urung Si VII (Barusjahe) dan Urung Si VI (Sukanalu).
  3. Suka, terdiri dari Urung Suka (Suka), Urung Sukapiring (Seberaya), Urung Ajinembah (Ajinembah), Tongging (Tongging).
  4. Sarinembah, terdiri dari Urung XVII Kuta (Sarinembah), Urung Perbesi (Perbesi), Urung Juhar (Juhar), Urung Kutabangun (Kutabangun)
  5. Kutabuluh, terdiri dari Urung Namohaji (Kutabuluh) dan Urung Langmelas (Mardinding).

Agama asli Karo adalah Sipele Begu / Perbegu yang merupakan Hindu Pemena. Islam memasuki tanah Karo dari pesisir Timur (Langkat) dan utara (Alas). Sementara agama Kristen mulai berkembang setelah kedatangan Belanda dan pada masa Orde Baru yang hanya mengakui lima agama.

Orang Simalungun

Kata Simalungun konon berarti timur, karena tanah simalungun berada di timur tanah karo.

Sebelum Belanda masuk, Simalungun terdiri dari 4 kerajaan dan 3 pertuanan, yakni :

  1. Kerajaan Siantar
  2. Kerajaan Panei
  3. Kerajaan Dolok Silou
  4. Kerajaan Tanoh Jawa
  5. Partuanan Raya
  6. Partuanan Purba
  7. Partuanan Silimakuta

Masyarakat Simalungun terbagi atas 4 marga, yakni :

  1. Sinaga
  2. Saragih
  3. Damanik
  4. Purba

Seperti Orang Karo dan Pakpak, orang Simalungun juga pemeluk Hindu Sipelebegu yang kemudian disebut Parhabonaron. Islam telah masuk sebelum pendudukan Belanda, di antaranya Sang Nualuh Damanik, yang karena perannya dalam penyebaran Islam digantikan Belanda dengan anaknya yang masih belum dewasa yang kemudian dikristenkan. Sementara Sang Nualuh dan Perdana Menterinya Bah Bolag akhirnya dibuang ke Bengkalis.

Selain Melayu Barumun, Rokan, Rao, Labuhan Batu, Minangkabau dan Johor, suku Simalungun merupakan penyumbang asal keturunan bagi orang-orang Melayu Asahan, Batubara dan Bedagai.  

Orang Nias

Orang Nias menyebut dirinya Ono Niha yang berarti Anak Manusia.  Ada bukti, 12.000 tahun yang silam, Orang Nias telah mendiami Tano Niha (Tanah Nias). Bukti tersebut ditemukan di Goa Togi Ndrawa, Nias Tengah. Hanya saja, jejak manusia goa itu pada Orang Nias masa kini tidak ditemukan.

Bahkan ada indikasi bahwa Tano Niha telah dihuni adalah pada 30.000 tahun yang silam.

Orang Nias merupakan penduduk pulau Perca yang tingkat kemurnian Austronesianya paling tinggi, hampir setara dengan Orang Toraja di Sulawesi. Keragaman genetika mereka, terutama kromosom Y,  sangat rendah dibandingkan orang-orang Perca lain.

Kasta pada Orang Nias terdiri dari 12 kasta. Kasta tertinggi adalah Balugu.

Orang Nias merupakan pengamal agama leluhur asli Nusantara yang disebut Fanomba Adu. Meskipun Pulau Nias termasuk salah satu wilayah yang pernah dikuasai Kesultanan Aceh dan menjadi tempat singgah anak dagang Muslim dari Singkil ke Pariaman, tetapi agama asli tersebut masih tetap bertahan. Barulah setelah penjajahan Belanda, agama asli Orang Nias tergusur oleh Kristen . Islam masuk ke Nias dari Sumatera Barat di Gunung Sitoli hingga Nias Selatan, sementara di utara dan barat datang dari Aceh. Tetapi jumlah umat Islam di Nias tidaklah banyak.

Orang Mentawai

Geografi Mentawai

Ada empat pulau terbesar di Mentawai, yakni : Pagai Utara, Pagai Selatan, Sipora dan Siberut.

Sejarah Mentawai

Nenek Moyang Mentawai menurut Reeves,2000 telah ada 2000 – 500  SM. Orang Eropa pertama yang tiba menurut catatan John Crisp yang mendarat tahun 1790 adalah orang Inggris yang mendarat pada pertengahan tahun 1700 yang mencoba membuat ladang lada di sebuah pulau di selatan Pagai Selatan, tetapi gagal.

Islam Mentawai

Agama asli Mentawai disebut Arat Sabulungan. Saat ini, orang Mentawai mayoritas beragama Kristen. Muslim di Mentawai lebih sedikit daripada Kristen.

Orang Enggano

Etimologi Enggano

Kata Enggano berasal dari bahasa Portugis engano yang berarti kecewa.

Geografi Enggano

Pulau terbesar adalah Pulau Enggano dengan luas 400,6 km2. Pulau-pulau kecil di antaranya :

  1. Pulau Dua
  2. Pulau Merbau
  3. Pulau Bangkai
  4. Pulau Satu

Jarak terdekat dengan kota di Sumatera adalah ke kota Manna, Bengkulu Selatan dengan jarak 96 km atau 60 mil laut.

Budaya Enggano

Orang Enggano terbagi dalam 5 suku, yakni :

  1. Koahoao
  2. Koano
  3. Kaarubi
  4. Kaharuba
  5. Koitara

Suku-suku tersebut berasas matrilineal.

Menurut Orang Enggano, leluhur mereka tiba dengan dua kapal yang terdampar di pulau itu. Wabah penyakit hanya menyisakan sepasang manusia yang keturunannya kemudian terbagi atas tiga suku Kaitora, Kaarubi dan Kaahoao.

Terbaginya tiga suku itu, konon karena banjir besar, hanya seorang lelaki yang berhasil selamat, yakni berhasil menyelamatkan diri ke puncak Gunung Nanuuwa. Setelah banjir surut, dalam keadaan lapar beliau mencari kerang dan dari kerang tersebut keluar wanita yang menjadi isteri pertamanya. Karena kerang dipecahkan dengan kayu arubi, wanita itu diberi nama Kaarubi. Dari kerang berikutnya yang dipukul dengan kayu henao, keluar isteri keduanya Kaahenao dan dari kerang yang dipukul dengan kayu itara keluar isteri ketiga yang dinamai Kaitara.

Kaahoao pecah menjadi Kaahoao dan Koano. Kaarubi pecah menjadi Kaarubi dan Kaharuba. Para pendatang diakui sebagai suku tersendiri yang memiliki hak yang sama, yakni suku Kaamai.

Islam Enggano

Masyarakat Enggano dulu adalah masyarakat tertutup dan budayanya tertinggal. Mereka sering bertempur sesama mereka. Masyarakat luar pulau menjuluki pulau ini Pulau Telanjang.

Penjelajah Eropa pertama yang tiba konon adalah orang Portugis yang diserang oleh penduduk setempat. Sedang yang melaporkan pulau  Enggano adalah Cornelis de Houtman, yang mendarat pada tanggal 5 Juni 1596 dengan empat kapal yakni Mauritius, Hollandia, Amsterdam dan Duyfken.

Agama asli Enggano adalah Ameok merupakan agama turunan Austronesia yang mempercayai  adanya kowek, kekuatan baik dan buruk yang terdapat pada tempat seperti sungai, pantai pohon dan batu . Tempat ibadahnya disebut maula. Saat ini Orang Enggano mayoritas beragama Islam dan Kristen Protestan. Muslim sedikit lebih banyak daripada Kristen.  

Masjid pertama dibangun tahun 1938 di desa Malakoni.

Orang Lubu dan Orang Ulu

Etimologi Lubu dan Etimologi Ulu

Kata Lubu konon berasal dari kata Lubuk. Konon, dulunya mereka tinggal di daerah yang menamai Lubuk, seperti Lubuk Sikaping, Lubuk Godang dan Lubuk Layang. Pada masanya, orang Lubu merupakan masyarakat Kerajaan Panai yang wilayahnya meliputi daerah pegunungan dari Gunung Lubuk Raya hingga Gunung Talamau dan aliran-aliran sungai yang mengalir darinya :

  1. Batang Toru
  2. Batang Angkola
  3. Batang Gadis
  4. Batang Masang
  5. Aik Bilah
  6. Batang Panai
  7. Batang Barumun
  8. Batang Sumpu
  9. Batang Kopu
  10. Batang Kampar

Setelah masuknya Islam, ke kerajaan Haru, sebagian dari mereka yang mempertahankan agama Hindu mengungsi ke hulu-hulu sungai sehingga disebut Orang Ulu. Sebaliknya, dengan perkembangan Islam di tanah Rao yang memunculkan identitas baru Melayu dan Minangkabau , orang-orang Lubu menyingkir ke tanah Mandailing dan Padang Lawas.

Asimilasi dengan orang Mandailing dan Padang Lawas

Asimilasi antara Orang Lubu dan Orang Ulu dengan Orang Mandailing dan Padang Lawas telah terjadi semenjak masa pra-Islam. Asimilasi ini terus terjadi. Sementara bahasa asli Lubu dan Ulu sendiri merupakan suatu bahasa yang memiliki kedekatan dengan bahasa-bahasa Melayu Rao, Rokan, Kampar dan Labuhan Batu.

Beberapa kosa kata Lubu di Siladang, Muara Sipongi menunjukkan hal tersebut seperti /ivang/ mereka,  /loki/ laki,  /ipah/ lepas,  /pajusi/ gadis,  /léhé/ leher,  /aé/ air, /hélé/ hilir,  /apé/ api,  /jalme/ manusia, /amai/ ibu, /balinda/ lari,  /holo/ alu, /mentuhe/ mentua, edi/ adik, /tobo /terbang, /bopo?/ bapak, /baso/ basuh,  /pavéok/periuk, /lopoi/ lapar, /podo /padang,  /ponjo /panjang, /topo?/ tapak,  /botu/ batu, /tomi?/tumit,  /hato?/ atap,  /hanau/ enau, /cakau/ sambar.

Islam Lubu dan Ulu

Orang Lubu dan Ulu tinggal di Mandailing dan Padang Lawas yang terkenal dengan sebutan Serambi Madinah. Secara berangsur-angsur, sisa-sisa Orang Lubu dan Orang Ulu memeluk Islam dan membaur dengan Orang Mandailing dan Padang Lawas.

Orang-Orang Pedalaman Melayik

Ketika Islam memasuki tanah Melayu, sesungguhnya tidak seluruhnya yang mengambil Langkah Baru tersebut, tetapi ada yang mempertahankan langkah lama yakni agama Hindu Budha, di antaranya :

  1. Orang Talang Mamak di Indragiri.
  2. Orang Sakai di Siak.
  3. Orang Bonai di Rokan.
  4. Orang Hutan di Bengkalis.
  5. Orang Kubu di Indragiri, Jambi, Palembang.

Islam Talang Mamak, Sakai, Bonai, Hutan dan Kubu

Setiap kali orang Talang Mamak, Sakai, Bonai, Hutan dan Kubu memeluk agama Islam, biasanya mereka meninggalkan komunitas mereka dan bergabung dengan masyarakat Melayu terdekat. Selain suku Kubu, saat ini mayoritas sudah memeluk agama Islam. Ada beberapa keluarga yang memeluk agama Kristen, tetapi jumlahnya tidak signifikan.        

Riwayat Islam Pulau Perca : Suku-Suku Pedalaman

Penulis
Kategori Sejarah Islam, Sejarah

←LamaBaru →