Ghobro » info

Tokoh-Tokoh Mitos Dalam Hikayat Banjar

Dimuat
Komentar Tak-satupun

Hikayat Banjar ditemukan dalam dua resensi. Menurut J.J. Ras, Resensi I berasal dari tradisi tulisan, sementara Resensi II berasal dari tradisi lisan. Resensi II menurut J.J. Ras merupakan penulisan dari versi cerita wayang. Bagaimana pun, Hikayat Banjar banyak dipengaruhi unsur-unsur hikayat yang berkembang dalam sastra Melayu dan cerita panji yang berkembang dalam sastra Jawa. Oleh karenanya, hikayat ini dipenuhi oleh tokoh-tokoh mitos.

Beberapa tokoh mitos yang penting adalah :

  1. Puteri Junjung Buih
  2. Sultan Iskandar
  3. Nabi Khidir
  4. Lambu Mangkurat
  5. Suryanata
  6. Suryawangsa
  7. Suryaganggawangsa
  8. Dayang Diparaja
  9. Puteri Huripan
  10. Aria Malingkun

Puteri Junjung Buih

Puteri Junjung Buih, adalah tokoh legenda dalam Sejarah Melayu (Sulalatus Salatin). Dalam kedua resensi, ditampilkan sebagai isteri Suryanata, merupakan nenek moyang mistikal raja-raja Melayu Suryawangsa/Suryaganggawangsa. Tokoh ini adalah peribaratan Dewi Laksymi, Dewi Kemakmuran yang muncul bersamaan dengan benda berharga dari buih lautan. Dalam Sejarah Melayu, Puteri Junjung Buih adalah anak angkat Nila Utama Sang Utama Seri Teribuana raja Palembang.Dalam Salasilah Kutai, Babu Jaruma, Petinggi Hulu Dusun yang bernama Babu Jaruma memelihara seekor ular yang ketika besar berenang ke sana ke mari di dalam Sungai Mahakam hingga mengeluarkan buih.  Dari buih itu, muncul bayi di atas gong leper yang kemudian diberi nama Puteri Junjung Buih. Dalam Cerita Sukadana disebutkan bahwa Brawijaya yang pulang dari perjalanan di hulu sungai melihat sekuntum bunga air tiba-tiba timbul tinggi  dari permukaan air. Seorang gadis keluar dari bunga itu dan diberi nama Puteri Lindung Buih yang kemudian dikawini Brawijaya.

Sultan Iskandar

Dalam Hikayat Banjar Resensi II disebutkan bahwa Sultan Iskandar menikahi Dewi Gumilir Awan, putri Saudagar Jantam. Sultan Iskandar juga menikahi Dewi Ratna Kusuma, putri Batara Bisnu.

Sultan Iskandar memiliki adik yang bernama Dewi Sekar Gading. Dewi Sekar Gading kemudian dinikahi oleh Ampu Jatmika, putra saudagar Jantam. Sultan Iskandar kemudian menggantikan kedudukan saudagar Jantam sebagai raja.

Isteri Sultan Iskandar di Kayangan, Dewi Ratna Kusuma melahirkan anak kembar siam. Bayi tersebut dijatuhkan oleh Batara Bisnu ke ribaan Lambung Jaya Wanagiri yang bertapa dalam bentuk bunga teratai. Setelah bunga teratai disimpan, Dewi Ratna Dewi, isteri Lambung Jaya Wanagiri melahirkan Bangbang Patmaraga dan Bangbang Sukmaraga.

Sultan Iskandar, adalah Iskandar Zulkarnain tokoh utama dalam Hikayat Iskandar, penakluk Eropa, Afrika dan Asia. Dalam Hikayat Banjar disebutkan tinggal di kayangan. Iskandar Zulkarnain juga disebut dalam Tombo Minangkabau sebagai nenek moyang raja-raja Minangkabau. Dalam Sejarah Melayu adalah leluhur Raja Suran. Dalam Hikayat Aceh, Raja Lamri Sultan Munawar Syah adalah keturunan Iskandar Dzul Karnain.

Nabi Khidir

Dalam Hikayat Banjar Resensi II disebutkan bahwa saudagar Jantam memiliki lima anak yakni Saudagar Keling, Saudagar Mangkubumi, Ampu Jatmika, Dewi Gumilir Awan dan Dewi Sari Jaya. Dewi Sari Jaya kemudian dinikahkan dengan Nabi Khidir.

Dengan persetujuan istrinya, Nabi Khidir kemudian juga menikahi Dewi Kasuma Sari, putri Batara Gangga dan Sang Hiang Antabuga di negeri Gumilang Kaca di bawah laut.

Saat Sultan Iskandar menjadi raja, Nabi Khidir membina kawasan berpagar keliling di dalam hutan. Dengan perjanjian bahwa apabila anak mereka berlainan jantina, Sultan Iskandar diterima menjadi murid Nabi Khidir. Saudagar Keling dan Saudagar Mangkubumi pun kemudian menjadi murid Nabi Khidir.

Dewi Kasuma Sari isteri Nabi Khidir melahirkan bayi perempuan tanpa kaki dan tangan. Batara Gangga membuangnya ke tanah di dekat air terjun di jurang Kiling di kaki Gunung Kiling. Nang Bangkiling dan isterinya menemukan bayi tersebut. Bayi tersebut meminta dirinya dipanggil Raden Galuh Ciptasari. Dalam usaha mencari raja manusia, Lambung Mangkurat bertapa di Teluk Gergaji. Batara Gangga memerintahkan dua ekor naga mengambil Raden Galuh Ciptasari dan membawanya ke Lambung Mangkurat yang dibungkus oleh buih.Lambung Mangkurat kemudian menamakan puteri itu Puteri Junjung Buih.

Nabi Khidir adalah nabi yang hidup di lautan. Dalam Hikayat Iskandar dipersamakan dengan Aristoteles, guru dan penasehat Iskandar Zulkarnain.

Lambu Mangkurat

Namanya berarti “Lembu yang menanggung dunia”. Dalam Hikayat Banjar Resensi I, beliau disebutkan sebagai putera kedua Ampu Jatmaka.

Dalam Resensi II Ampu Jatmika mendirikan Negeri Chandi Agung di Kalimantan. Penduduk Kuripan kemudian berpindah ke Chandi Agung. Isteri Ampu Jatmika melahirkan Lambung Jaya Wanagiri, Lambung Mangkurat dan Dewi Keriang Bungsu. Lambung Jaya Wanagiri menikahi Puteri Ratna Dewi dari Palembang Sari. Lambung Mangkurat menikahi Puteri Bayam Beraja dari Gegelang.

Selama pemerintahan bersama Lambung Jaya Wanagiri dan Lambung Mangkurat, orang-orang Kuripan, Palembang Sari dan Gegelang banyak pindah ke Candi Agung. Setelah kematian raja dan permaisuri Kuripan, orang-orang besar Kuripan menyerahkan negeri mereka ke Lambung Jaya Wanagiri dan Lambung Mangkurat.

Anak raja dari 40 negeri meminang Dewi Keriang Bungsu. Lambung Jaya Wanagiri dan Lambung Mangkurat kemudian menerima pinangan Raden Ombak Gintayu, putera raja China di Kuching dengan syarat mempersembahkan tukang-tukang pembuat berhala dari gangsa. dipersamakan dengan Chanakya, pendeta Jina dari India yang menantang Iskandar Zulkarnain. Sebagaimana Chanakya yang membedah perut permaisuri Samuderagupta untuk melahirkan Bindusara, Lambu Mangkurat membedah perut Puteri Dayang Diparaja, istrinya sendiri untuk mengeluarkan Puteri Huripan yang akan dijodohkan dengan Maharaja Suryaganggawangsa.

Suryawangsa

Dalam Hikayat Banjar disebutkan sebagai pangeran yang merupakan putra Maharaja Suryanata, saudara Maharaja Suryawangsa. Beliau kemudian menikahi putri saudaranya, yakni Puteri Kalarang yang merupakan putri dari Maharaja Suryaganggawangsa dengan Puteri Huripan.  Dari Puteri Kalarang, lahirlah Raden Carang Lalean.

Suryaganggawangsa

Dalam Hikayat Banjar adalah Maharaja pengganti Suryanata merupakan putra Suryanata dari Putri Junjung Buih.

Suryanata

Dalam Hikayat Banjar Resensi I disebutkan sebagai gelar dari Raden Putera, merupakan putra angkat Ratu Majapahit yang turun dari matahari ke haribaannya. Oleh Lambu Mangkurat dibawa ke rumah lama Ampu Jatmaka. Menikahi Puteri Junjung Buih dan memperoleh dua putera, Maharaja Suryaganggawangsa dan Pangeran Suryawangsa.

Dayang Diparaja

Dalam Hikayat Banjar Resensi I disebutkan bahwa Maharaja Suryaganggawangsa hanya mau menikah dengan Puteri Dayang Diparaja. Puteri Diparaja adalah anak tunggal Aria Malingkun di Tangga Hulin. Aria Malingkun enggan melepaskan puteri ini, tetapi kemudian Lambu Mangkurat memaksa Aria Malingkun menyerahkannya kemudian mengawininya. Dari perkawinan tersebut lahirlah Puteri Huripan yang dilahirkan dengan membedah perut ibunya.

Puteri Huripan

Dalam Hikayat Banjar Resensi I disebutkan bahwa Puteri Huripan dilahirkan dengan cara membedah perut ibunya oleh Lambu Mangkurat ayahnya. Puteri Huripan hanya mau menyusui susu lembu putih. Puteri Huripan kemudian dinikahkan dengan Maharaja Suryaganggawangsa dan mendapatkan seorang putri yang bernama Putri Kalarang.

Aria Malingkun

Dalam Hikayat Banjar Resensi I disebutkan bahwa Aria Malingkun adalah ayanda Dayang Diparaja. Beliau beserta isteri bunuh diri mengetahui puterinya mati dibedah oleh Lambu Mangkurat.

Tuju ke : Puteri Junjung Buih, Sultan Iskandar, Nabi Khidir, Lambu Mangkurat  , Suryawangsa,Suryaganggawangsa, Suryanata,Sentanu, Dayang Diparaja, Puteri Huripan, Aria Malingkun

Penulis
Kategori Sejarah, Hikayat

←LamaBaru →