Keunggulan Cartridge CIC
Tidak terasa tahun 2012 telah tiba. Tidak terasa juga sudah lebih setengah tahun saya menggunakan printer Epson dengan cartridge CIC yang pesan dari Ivory Fill yang bersedia mengirimkan ke tempat saya melalui jasa kurir Posindo. Biasanya, dengan printer Canon yang biasa saya gunakan, entah sudah berapa banyak bangkai printer yang sudah siap diangkut oleh tukang loak.
Saya bukan mau menjelek-jelekkan Canon karena pada dasarnya Canon merupakan printer yang bagus dan top di Indonesia. Masalahnya, untuk kebutuhan ekonomis di mana kita harus menghemat pengeluaran melalui pengurangan pembelian cartridge original yang harganya masih mahal.
Sebagai contoh, di daerah harga sepasang cartridge original untuk printer Canon termurah hampir menyamai harga printer terbarunya. Otomatis ya, kenapa harus ganti cartridge, mendingan beli printer baru. Itulah yang terjadi saat saya menggunakan CIC.
CIC yang didukung oleh beberapa merk printer seperti Brother, HP dan terutama sekali Epson menawarkan solusi lain penghematan cartridge. Adanya lubang pemasukan tinta yang disertai penutupnya sehingga menutup kemungkinan masuknya udara perusak merupakan salah satu penyebab kenapa cartridge ini bisa awet. Selain itu, fitur autoreset pada cartridge CIC juga memungkinkan kita masih dapat mendapatkan informasi keadaan tinta sebagaimana cartridge yang original.
Salah satu masalah, hanyalah, jumlah tinta yang kita isi ulang pada cartridge tidak persis sama dengan tinta yang diisi pabrikan. Karenanya, pada angka tertentu kita harus mengecek tinta yang dapat dilihat dari luar karena cartridge CIC transparan. Saya sering mengalami kelupaan, sehingga tiba-tiba saja printer mencetak kosong. Akibatnya, setelah mengisi ulang, saya harus melakukan proses cleaning sampai 3 kali sebelum tinta keluar seperti normal.
Bagaimanapun, ini masih mendingan daripada cartridge isi ulang non CIC yang setelah proses isi ulang beberapa lama, diclean sampai 100 kali pun tidak akan berpengaruh.
Tulisan sebelumnya:
05.01.2012. 08:50






