Ghobro » kritik

Antara Lima Puluh Koto Minangkabau dan Limo Koto Kampar

Dimuat
Komentar Tak-satupun

Sumatera Barat, Riau dan Jambi pernah bersatu dalam satu provinsi yakni Sumatera Tengah yang beribukota di Bukit Tinggi. Pada masa provinsi tersebut, timbullah gejolak ketidakpuasan daerah dan pusat yang akhirnya menimbulkan pemberontakan PRRI. Tetapi di samping itu, juga timbul ketidakpuasan terhadap pemerintah provinsi Sumatera Tengah dari masyarakat Karesidenan Riau dan Karesidenan Jambi.

Pro kontra timbul di tengah masyarakat, yakni yang menginginkan persatuan Sumatera Tengah dan yang menginginkan pemekaran Sumatera Tengah. Pemekaran Sumatera Tengah dinilai berpotensi mengurangi daya tawar Propinsi Sumatera Tengah ke pusat, sebaliknya pemekaran Sumatera Tengah dianggap menimbulkan keadilan bagi Karesidenan Riau dan Karesidenan Jambi yang memiliki Sumber Daya Alam Migas. Pada akhirnya, di Riau terbentuk 2 Provinsi Riau, yakni Provinsi Riau bentukan PRRI di Riau Daratan dan Provinsi Riau bentukan pusat di Tanjung Pinang.

Dalam masa-masa pro kontra tersebut, timbul dua fakta budaya, yakni Minangkabau Raya yang meliputi Sumatera Barat, Riau Daratan dan Jambi dan Melayu Raya yang menegaskan Melayu Riau bukan Minang. Di antara konsep Minangkabau Raya adalah hubungan antara Lima Puluh Koto Minangkabau dan Limo Koto Kampar.

Luak Lima Puluh Koto dan Limo Koto

Terjadinya luhak-luhak di Minangkabau disebutkan bahwa :

  1. Luhak Tanah Datar, berarti luak/kurang tanah yang datar.
  2. Luhak Agam, berarti luak/kurang agama.
  3. Luhak Lima Puluh Koto, berarti luak/kurang dari 50 koto, karena yang lima kotonya menjadi Kampar.

Perbedaan Bahasa Kampar dan Minangkabau

Salah satu yang menarik dalam hubungan Kampar dan Minangkabau adalah adanya perbedaan yang tajam dari segi bahasa. Meskipun secara umum kata-kata dalam bahasa Kampar dan Minangkabau sama-sama berujung –o, tetapi bahasa Kampar tidak berlagu-lagu seperti bahasa Minangkabau. Bahasa Kampar dari segi gaya tutur memiliki kedekatan dengan Tapung, Rokan, Hulu Kampar (yang masuk Kabupaten Lima Puluh Koto), Rao, Labuhan Batu, Natal, Barus, Anak Jamu Aceh. Bahasa ini juga lebih dekat dengan bahasa Batang Hari (Peranap Indragiri Hulu, Kotobaru Dharmasyraya, Solok Selatan, Indrapura, Muko-Muko, Bengkulu).

Faktor alun irama tersebut dianggap pembeda antara bahasa Melayu (Kampar/Batang Hari) dengan bahasa Minangkabau.

Ada hambatan geografis dari Kampar ke Lima Puluh Koto

Sebelum dibukanya jalan oleh Belanda pada akhir abad 19, hubungan antara Kampar dengan Lima Puluh Koto sangat sulit. Kedekatan geografis antara Lima Puluh Koto dengan Kampar banyak menyebabkan orang salah duga bahwa Sungai Kampar berhulu ke Payakumbuh, padahal hulu Kampar di Kabupaten Lima Puluh Koto adalah bagian utara kabupaten tersebut yang penduduknya secara budaya lebih dekat dengan Kampar daripada masyarakat Luhak Lima Puluh Koto.

Batang Agam yang bermuara di Payakumbuh dan Batang Sinamar yang menampung aliran Batang Agam di Payakumbuh ternyata mengalir ke Kabupaten Tanah Datar dan bermuara di Sijunjung untuk kemudian mengalir ke Kuantan Indragiri.

Untuk menuju Pagaruyung dari Kampar pada masa lalu ada 2 jalur, yakni Jalur Rao dan Jalur Kuantan.

  1. Jalur Rao : Dari Kampar mudik ke Kota Bento Tinggi (Rao) , kemudian ke Bonjol, Bukit Tinggi  menghilir Batang Agam ke Payakumbuh, menghilir Batang Sinamar ke Batusangkar, kemudian ke Sungai Terab baru kemudian ke Pagaruyung.
  2. Jalur Kuantan : diberitakan Thomas Dias mengarungi Sungai Siak hingga tiba di Patapahan (Tapung), kemudian ke Air Tiris (Lima Koto Kampar), Belimbij (Belimbing), kota Ridan, Cata Padan ?, Pacu (Sei Paku/Kampar Kiri), Gunung Pima ?, Kota Nugam?. Dalam perjalanan pulang : Dari istana Pagaruyung ke kota Luca (Siluka) yang mengalir sungai Quantam (Kuantan) lalu ke Maranty (Menganti), lalu ke Sunipo (Sumpo/Sumpur), Ungam (Ungan, utara Sumpur), melewati pegunungan ke Madiangem (Mandi Angin), Air Tanam (Air Tanang), Pancalan Serre (Pangkalan Sarai /tepi Batang Sibayang yang dapat dilayari perahu lebih besar), Turusan (Tarusan), Catobaro (Kotobaru), Merorum (Mariring), Merobiaan(?), Tanjong Bale (Tanjung Balit), Passar Lama (Pasar Ramo), Oedjom Boket (Ujung Bukit), Damo (Domo), Sava (Padang Sawah), Cuncto (Kuntu), Lagumo (?), Liepa Cain (Lipat Kain), Pacu (Sei Paku), Calubee (?), Padan, Belenbun, Ajer Tiris (Air Tiris).

Hitungan Limo Koto adalah pembagian dalam Andiko 44

Hitungan Limo Koto Kampar bukanlah Lima Koto yang hilang dari Limapuluh Koto, tetapi pembagian grup dari konfederasi Andiko 44 yang berpusat di Muara Takus yang terdiri dari 44 andiko di Muara Sako Kampar (pertemuan Kampar Kiri dan Kanan), Kampar Kiri, Kampar Kanan, Tapung, Rokan (Hulu) dan Hulu Kampar.

Penulis
Kategori Sejarah, Budaya

←LamaBaru →