Ghobro » kritik

Hilangnya Buku Sejarah Kuno

Dimuat
Komentar Tak-satupun

Bangsa Melayu telah lama mengenal tulisan. Secara sahih, prasasti yang ditemukan di Tarumanegara dan Kutai menunjukkan bahwa tradisi menulis telah dikuasai Bangsa Melayu dalam kurun dua milenium. Selain di batu, Bangsa Melayu mengenal penulisan di atas kertas baik dari daun lontar maupun daun nipah. Selain itu, kulit-kulit hewan pun telah dipergunakan untuk media tulis.

Catatan sejarah menunjukkan bahwa para pendeta Tibet, Cina dan Siam datang ke pulau Perca untuk mempelajari kitab-kitab Budha. Kitab Arthasastra karya Chanakya pun telah menjadi bacaan wajib raja-raja Melayu untuk pedoman ketatanegaraan, ekonomi, militer dan penataan masyarakat. Bagi masyarakat pun, secarik surat saja diwariskan turun-temurun sebagai barang pusaka.

Pertanyaannya, ke mana buku-buku tersebut sehingga sejarah kuno Nusantara menjadi sebuah misteri dan dipenuhi praduga-praduga dan hipotesis?

Abdullah Munsyi, penulis Rafles, menuliskan “Di tanah Melayu pada zaman itu ada perkumpulan yang anggota-anggotanya terdiri dari orang-orang Melayu, Keling, Arab dan bermacam-macam pedagang Tionghoa dan lain-lain. Waktu itu Belanda mengumpulkan buku-buku dan hikayat-hikayat yang banyaknya kira-kira 70 jilid, yang dikumpulkan dari Riau, Langka, Pahang, Trengganu dan Kelantan.”

Sayed Alwi D. Tahir Al-Haddad, Mufti Kerajaan Johor Malaya, menuliskan “Pada tahun 1341 H saya sampai di Jawa dan menanyakan dan mencari buku-buku sejarah Jawa. Orang-orang menasehatkan saya supaya jangan menyebut-nyebut tentang itu, karena Pemerintah Belanda mengharuskan setiap orang yang memiliki buku-buku sejarah kuno untuk menyerahkan buku-buku tersebut kepada suatu badan yang dibentuk oleh Belanda khusus untuk itu.”

Penulis
Kategori Budaya, Sejarah

←LamaBaru →