Ghobro » kritik

Letak Istana Tanjungpura versi Sejarah Melayu

Dimuat
Komentar Tak-satupun

Edisi pelajar Sejarah Melayu Samad, menjelaskan bahwa tiga putra Suran (mungkin Bitjiram Syah –> Kulothanga  Chola ) menjadi raja di tiga daerah Melayu (Malai+ur :”"NEGERI BUKIT” , Saila + Indra : “PENGUASA BUKIT”) yakni :

  1. Nila Pahlawan gelar Sang Sapurba di Pagaruyung.
  2. Nila Krisna Pandita di Tanjungpura.
  3. Nila Utama gelar Seri Teribuana di Palembang pindah ke Bintan pindah ke Tumasik/Singapura.

Sang Sapurba sangat jelas dinyatakan dijemput oleh Patih Suatang (Datuk Perpatih Nan Sebatang).  Nila Utama dirajakan oleh Demang Lebar Daun (Palembang) dan dinobatkan Wan Seri Beni (Bintan). Sementara Krisyna Pandita hanya dikatakan dijemput oleh patih Tanjungpura tanpa menyebutkan nama patihnya.

Kontroversi

Tanjungpura = Sukadana

Salah satu yang menjadi kontroversi dalam nama Tanjungpura adalah penyamaan Tanjungpura tua ini dengan Kerajaan Sukadana di Kalimantan Barat, sehingga terjadi kekaburan letak istana Tanjungpura versi Sejarah Melayu.

Sanggahan :

Johannes Jacobus Ras dalam Hikayat Banjar yang diterjemahkan oleh Siti Hawa Saleh mengungkapkan bahwa penempatan Tanjungpura di Sungai Pawan, Matan, Kalimantan Barat agak mustahil. Matan adalah negeri yang tidak begitu ramai penduduknya dengan daerah pedalaman yang tidak begitu penting. Dibandingkan dengan daerah-daerah lain di sepanjang pantai dan pedalaman Kalimantan yang telah dibuka orang Melayu, Matan mempunyai sumber-sumber ekonomi yang kecil. Penduduknya kebanyakan terdiri dari suku-suku Dayak yang merayau ke seluruh negeri. Lebih mungkin, Negeri Tanjungpura adalah sebuah negeri baru yang dibuka oleh penduduk Melayu yang berasal dari Kerajaan Tanjungpura, yang menamai negeri baru ini dengan negeri asalnya.

Tanjungpura = Daha

Syair Ken Tambuhan yang ditulis dalam bahasa Melayu Klasik Murni menyebutkan bahwa Tanjungpura adalah Kerajaan Daha atau Banjar Kulon. Dalam syair Ken Tambuhan dan Cerita Wayang Kinudang disebutkan Ken Tambuhan, putra Raja Kuripan memiliki tunangan bernama Wirawati. Wirawati berdiam di istana di dalam hutan kepunyaan Raja Kuripan. Puteri ini menenun sehelai kain dengan pola geringsing wayang. Puteri ini adalah puteri Raja Kuripan yang disebut berganti-ganti Puteri Tanjungpura dan Puteri Gunung Ledang.

Catatan : Kerajaan Kuripan disebut juga Cempaka Jajar. Menurut Ras, Jajar adalah kata Melayu untuk baris sama dengan kata banjar  yang dalam bahasa Jawa adalah sebaris rumah atau pokok.

Tanjungpura dalam Sejarah Melayu adalah Kuripan / Tanjungpuri

Pemukiman orang-orang Melayu di Kalimantan Tenggara telah dimulai pada masa Jayanasa. Dinasti Sailendra dari Malayan (kerajaan Pandya) India Selatan berlabuh di Muara Air Manna (Bengkulu Selatan) dan memudiki Sungai Manna sampai di Dataran Tinggi Pagar Alam yang memiliki dua puncak yang memenuhi syarat mitologi Hindu yakni Puncak Merapi sebagai Gunung Meru/Gunung Ledang dan puncak Dempo sebagai Bukit Seguntang.  Mereka mendirikan Negara Bukit (istilah ini berulang-ulang disebut dalam Sejarah Melayu). Negara Bukit ini disebut Melayu (Malai = Bukit+ ur = Negeri) dan mendirikan Wangsa PENGUASA BUKIT atau Sailendra (Saila = Bukit, Indra = Penguasa).

Penguasa Sailendra kemudian menuruni kawah Dempo, yakni Sungai Selabung dan kemudian mendirikan Negeri MINANGA di Komering (Muara Sungai Selabung). Setelah menaklukkan negeri-negeri di aliran Batanghari Sembilan, Penguasa Sailendra mendirikan SRIWIJAYA di Palembang dengan Bukit Siguntang-guntang sebagai kekuatan mistisnya. Peresmian BENUA baru tersebut ditandai dengan parade militer berupa iring-iringan perahu yang dikawal prajurit dari pinggir sungai dari MINANGA Komering hingga ke PALEMBANG. Setahun kemudian, iring-iringan ini tiba di Tanjungpura Barito.

Penguasa Sriwijaya menjadi besar karena hasil tambang terutama emas, perak dan intan. Tambang-tambang emas tersebut terdapat di Hulu Palembang, Pagaruyung,Negeri Perak dan Johor, Bisaya (Filipina) serta Meratus Tanjungpura. Dinasti Sailendra ditumbangkan oleh kerajaan Chola yang akhirnya ditumbangkan oleh Kerajaan Pandya pada abad 13. Pada abad 13 inilah, dibangkitkan kembali KEMAHARAJAAN MELAYU, dengan tiga pusat, yakni SINGAPURA untuk membebaskan Semenanjung Melayu dari kekuasaan Siam, PAGARUYUNG untuk menguasai Sumatera dan TANJUNGPURA untuk menguasai Kalimantan.

Tanjungpura dalam Sejarah Melayu

  1. Sang Sapurba (tepatnya Nila Krisna) belayar dari Palembang menuju ke selatan selama enam hari dan kemudian sampai di Tanjungpura. Di sini baginda disambut oleh raja yang pada masa yang sama menerima Maharaja Majapahit sebagai tetamunya.
  2. Seorang putra Maharaja Tanjungpura, selepas karam bahteranya, hanyut sampai ke Pulau Jawa dan akhirnya dipilih oleh Ratu Majapahit sebagai suaminya.
  3. Sultan Mansyur Syah berangkat ke Jawa sebagai calon untuk mengawini puteri Maharaja Majapahit. Di Majapahit baginda bertemu dengan lawan-lawannya, maharaja-maharaja Daha dan Tanjung pura.

Dalam Sejarah Melayu tersebut, Daha merujuk ke Nagara Daha Banjar dan Tanjung Pura merujuk ke Kuripan.

Menurut Ras, Hikayat Banjar Resensi I menulis bahwa seorang anak raja India pendatang dilantik pemerintah Kuripan sebagai penggantinya. Ras mempersamakan Ampu Jatmaka dengan Bicitram Syah dalam Sejarah Melayu.

Dalam Sejarah Melayu edisi pelajar Samad, Bicitram Syah adalah putra Raja Suran yang terdampar di Belambang Majut (Bengkulu) dan menikahi putri Demang Kebayunan. Bicitram Syah pada akhirnya kembali ke Benua Keling dan menjadi raja. Diperbandingkan dengan sejarah Chola, Bicitram adalah Kulothanga Chola, putra dari raja Vengi yang menikahi putra Rajendra Chola. Selama pemerintahan 3 orang pamannya (3 orang putra Rajendra Chola), Kulothanga tinggal di Asia Tenggara dan kembali ke Benua Keling dan menjadi Raja Chola. Kulothanga dicurigai terlibat dalam kematian putra ketiga Rajendra yang digantikannya.

Ampu Jatmaka lebih tepat dengan Krisna Pandita yang mungkin keturunan Chola + Melayu.  Tiga raja Melayu (Sang Sapurba, Seri Teribuana dan Krisna Pandita) mungkin merupakan keturunan dari Kulothanga yang terdampar di Bengkulu kemudian menikahi putri Melayu di Pagaralam Dempo. Gelar Ampu identik dengan Empu dan Pandita. Nama Lembu Mangkurat menarik dikaitkan dengan senjata pusaka Nila Krisna yakni Lembuara. Dengan demikian, lebih tepat diasumsikan Ampu Jatmika yang dinobatkan Raja Kahuripan adalah Nila Krisna yang dinobatkan menjadi raja Tanjungpura.

Dalam Hikayat Banjar, raja-raja Banjar disebut Suryanata, Suryawangsa dan Suryaganggawangsa. Chola sebagaimana Asal Usul Dinasti Sailendra adalah Suryawangsa. Dalam sejarah Melayu, istri raja Suran yang melahirkan tiga putra raja disebut adalah Dewi Varuna (Mahtabul Bahri) putri dari Dewa Kegelapan/Bumi (Wisnu/Pratiwi/Aftahul Ardh). Sementara dalam Hikayat Banjar disebutkan Batara Gangga. Dalam sejarah Chola, kerajaan Chola telah menaklukkan Negara-Negara Gangga dan mengambil isteri dari keluarga kerajaan Gangga.

Kesimpulan

Dengan memperbandingkan naskah-naskah, Tanjungpura lebih tepatnya adalah Kerajaan Kahuripan. Tanjungpura bersama-sama Bintan, Palembang, Pagaruyung adalah kerajaan-kerajaan yang eksis sebelum terbentuknya Dinasti Kemaharajaan Melayu jilid II yang dibangun oleh keturunan Chola + Melayu. Tanjungpura, Palembang dan Pagaruyung dikuasai Patih-Patih dan Demang yang merupakan keturunan Dinasti Sailendra. Sementara Bintan, Johor dan Perak dikuasai penguasa dari Siam. Kesemuanya inilah yang kemudian ditundukkan kembali, dan dengan kebesaran Chola yang memporakporandakan Sailendra pada awal milenium I, kesemuanya bersedia tunduk secara damai yang kemudian diikat dengan perkawinan.

Penulis
Kategori Sejarah

←LamaBaru →