Ghobro » kritik

Perkembangan Perolehan Suara PPP dari Tiap Pemilu

Dimuat
Komentar Tak-satupun

Partai Persatuan Pembangunan dideklarasikan pada tanggal 5 Januari 1973 sebagai fusi 4 partai Islam, yakni :

  1. Partai Nahdlatul Ulama (NU)
  2. Partai Serikat Islam (PSII)
  3. Partai Persatuan Tarbiyah Islamiah (Perti)
  4. Partai Muslimin Indonesia (Parmusi)

Hingga saat ini, PPP telah dipimpin oleh 1 Dewan Presidium dan 5 orang ketua, yakni :

  1. KH. Idham Chalid (Presiden Partai/NU), Wakil Presiden Partai : Mohamad Syafaat Mintaredja (Parmusi), Thayeb Mohammad Gobel (PSII), Rusli Halil (Perti), Masykur (Kelompok Persatuan Pembangunan/Fraksi di DPR) (1973)
  2. H.M.S. Mintaredja (1973-1978)
  3. H. Djailani Naro (1978-1989)
  4. H. Ismail Hassan Metareum (1989-1998)
  5. Hamzah Haz (1998-2007)
  6. Suryadharma Ali (2007-2014)

Perolehan Suara Partai-Partai Sebelum Fusi

PPP berasal dari fusi empat partai Islam yang mengikuti Pemilu 1971. Perolehan keempat partai tersebut sebagai berikut :

  1. NU (10.213.650 /18,68 %/58 kursi)
  2. Parmusi (2.930.746 / 5,36 % / 24 kursi)
  3. PSII (1.308.237 / 2,39 % / 10 kursi)
  4. Perti (381.309 / 0,69 % / 2 kursi)

Jumlah (14.833.942 / 27,12 % / 94 kursi )

Perolehan Partai Islam 1955

Hasil ini sangat berbeda jauh dengan hasil Pemilu 1955. Perolehan partai-partai Islam pada tahun 1955 sebagai berikut :

  1. Masyumi (7.903.886 / 21 % / 57 kursi )
  2. NU ( 6.955.141 / 18 % / 45 kursi )
  3. PSII (1.091.160 / 3 % / 8 kursi )
  4. Perti (483.014 / 1 % / 4 kursi )
  5. PPTI ( 85.131 / 0% / 1 kursi )
  6. AKUI (81.454 / 0 % / 1 kursi)

Jumlah : 16.599.786 / 44 % / 116 kursi ).

Hasil Perolehan PPP  sepanjang masa :

  1. 1977 : 18.743.491 (29,29%)    99    2
  2. 1982 : 20.871.880 (27,78%)    94    2
  3. 1987 : 13.701.428 (15,96%)    61    2
  4. 1992 : 16.624.647 (17%)    62    2
  5. 1997 : 25.340.028 (22,43 %)    89    2
  6. 1999 : 11.329.905 (10,71%)    58    3
  7. 2004 :   9.248.764 (8,15 %)    58    4
  8. 2009 :   5.533.214 (5,32 %)    38    6
  9. 2014 :   8.157.488 (6,53 %) 39 9

Kritik

Pemilu 1977 s.d. 1997 dilaksanakan pada masa Orde Baru yang penuh kecurangan dan tekanan. Dari 1977 hingga 1992, tekanan dan kecurangan Orde Baru menyebabkan penurunan yang drastis. Pendidikan politik yang dijalankan oleh Orde Baru menyebabkan turunnya fanatisme politik umat Islam dan pencitraan negatif terhadap partai-partai termasuk partai Islam terutama dengan jargon Islam yes partai Islam No yang dibarengi dengan politik uang, politik pembangunan dan politik karir menyebabkan politik Islam dijauhi oleh umat generasi baru yang berdampak pada makin menurunnya kader dan loyalis PPP.

Pada tahun 1997, perpecahan di tubuh PDI berhasil dimanfaatkan oleh kader PPP yang dimotori oleh politikus PPP Solo Mudrick Sangidoe dengan kampanye penitipan suara kader PDI ke PPP. Perolehan suara PPP meningkat.

Pemilu 1999, PPP sebagai partai pemerintah BJ Habibie bersama-sama PDI dan Golkar mendapatkan sentimen negatif sebagai representasi Orde Baru. Di samping itu, muncul partai-partai Islam baru seperti PKS dan PBB dan partai-partai berbasis umat, yakni PAN dan PKB. Perolehan PPP menurun drastis.

Duduknya Hamzah Haz sebagai Wakil Presiden Kabinet Megawati Hamzah Haz menggoncangkan kader PPP yang semula mendapatkan fatwa haram presiden perempuan. Kepercayaan kepada PPP sebagai partai umat meluntur, sejumlah partai islam baru melejit di antaranya PKS. Suara PPP kembali mengalami penurunan dalam Pemilu 2004.

Kasus moral yang menimpa politisi PPP semakin menurunkan citra PPP sebagai partai umat. Korupsi dan dukungan kepada pemerintah bersama-sama PAN dan PKB menyebabkan partai-partai ini dianggap partai pragmatis. Demokrat dan PKS yang sama-sama dianggap bersih dan profesional mendapatkan zaman keemasan. PKS yang dianggap menjalankan amal shaleh dengan tindakan dalam berbagai bantuan bencana dan istiqamah menjalankan amar ma’ruf nahi munkar dengan sikapnya yang dianggap gigih membela Palestina mendapatkan kepercayaan penuh dari generasi muda Islam. Sementara Demokrat mendapatkan simpati dari masa NU.  PPP kembali mengalami penurunan suara dalam Pemilu 2009.

Pembatasan partai-partai membantu partai-partai yang ada termasuk PPP dalam mengumpulkan kader-kader dan massa. Tetapi oposisi yang gencar dari PDIP, Gerindra, Hanura dan Nasdem membuat dukungan masyarakat kepada partai-partai pemerintah menurun drastis. Satu-satunya partai pemerintah yang mengalami kenaikan hanyalah PKB. Gerindra mengalami lonjakan perolehan yang signifikan. Nasdem bahkan berhasil mengungguli PPP. PPP hanya di atas Hanura sebagai partai oposisi yang dianggap paling pasif. Dalam pemilu 2014, dari perolehan suara dan persentase PPP mengalami peningkatan tipis, tetapi dari segi peringkat semakin turun jauh.

Penulis
Kategori Demokrasi, Organisasi

←LamaBaru →