Ghobro » kritik

Restoris vs Reformis

Dimuat
Komentar Tak-satupun

Profesor  Dr. Jimly as Shiddiqie,SH.,MH. tokoh kelahiran Palembang, 17 April 1956,  Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) yang merupakan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, menyatakan bahwa sistem proporsional jauh lebih baik daripada sistem terbuka, karena sistem terbuka menyebabkan maraknya politik uang (money politics). Pernyataan tersebut tentu saja dibantah oleh banyak pihak karena politik uang yang terjadi adalah karena lemahnya sistem penyelenggaraan dan pengawasan pemilu. Tetapi, terlepas dari pro kontra kaitan antara sistem pemilihan dengan politik uang, maka kiranya dapat disepakati bahwa hilangnya idealisme pemilih adalah sebab tunggal dari penyebab kekacauan ini.

Saat ini, tersisa 12 (dua belas) partai politik tingkat nasional. Dari 12 (dua belas) partai tersebut, dapat dibagi kelahirannya sebagai berikut :

  1. Yang lahir dan berpartisipasi di era orde baru : PPP dan Partai Golkar.
  2. Yang lahir di era orde baru dan baru mulai berpartisipasi pada era reformasi : PDIP.
  3. Yang lahir dan mulai berpartisipasi di awal era reformasi : PKB, PAN, PBB, PKPI (semula PKP), PKS (semula PK).
  4. Yang lahir dan mulai berpartisipasi di Pemilu 2004 : Partai Demokrat (PD).
  5. Yang lahir dan mulai berpartisipasi di Pemilu 2009 : Partai Hanura dan Partai Gerindra.
  6. Yang lahir dan mulai berpartisipasi di Pemilu 2014 : Partai Nasdem.

Dari ke-12 partai tersebut, maka berdasarkan sejarah ideologinya dapat kita lihat :

  1. Kekaryaan (profesionalisme/non ideologis) : Partai Golkar.
  2. Gabungan ideologi Islam (NU, Muslimin Indonesia, Tarbiyah Indonesia, Sarikat Islam) : PPP.
  3. Gabungan ideologi sekuler (marhaenisme/PNI, sosialisme/Murba, nasionalisme/IPKI, Katolik/PKRI, protestan/Parkindo) : PDIP.
  4. Pengagum Gusdur dan massa NU : PKB.
  5. Pengagum Amin Rais dan massa Muhammadiyah : PAN.
  6. Pengagum Yusril Ihza Mahendra dan massa DDII/Masyumi : PBB.
  7. Jamaah Tarbiyah, DDII/Masyumi, HMI-MPO,KAMMI : PKS.
  8. Sempalan Golkar, pendukung Edi Sudrajat/Tri Sutrisno : PKPI.
  9. Pengagum SBY : Partai Demokrat.
  10. Pengagum Wiranto : Partai Hanura.
  11. Pengagum Prabowo : Partai Gerindra.
  12. Pengagum Surya Paloh : Partai Nasdem.

Dari berbagai partai tersebut, maka dapat kita kelompokkan ideologinya sebagai berikut :

  1. Non Ideologis : Partai Golkar, PKPI, Demokrat, Hanura, Gerindra, Nasdem.
  2. Neo-masyumi : PBB dan PKS.
  3. Islam campuran : PPP.
  4. Sekuler campuran : PDIP.
  5. Islam NU : PKB.
  6. Islam Muhammadiyah : PAN.

Kekaburan Ideologi

PAN dan PKB lahir dari tokoh Muhammadiyah dan NU, tetapi para pendiri partai berusaha inklusif dengan menyatakan bahwa partai mereka merupakan partai terbuka dan nasionalis.  Kondisi ini menyebabkan kedua partai ini menjadi partai yang aneh karena mereka tidak 100% mendukung ideologi Muhammadiyah dan NU tetapi dalam kenyataannya pendukung utama mereka adalah massa kedua Ormas tersebut. Oleh karenanya, kedua partai ini menjadi partai yang kabur ideologinya, dan akhir-akhir ini banyak menggunakan artis sebagai pendulang suara.

PPP dan PDIP adalah dua partai yang mengalami pemaksaan fusi oleh Soeharto. Unsur utama PDIP adalah PNI yang berideologi marhaenisme dan pendukung Soekarno, sementara di dalamnya terdapat Murba / pendukung Tan Malaka yang berseberangan dengan Soekarno dan pernah dibubarkan Soekarno, IPKI yang didirikan oleh Angkatan Darat yang dekat dengan pendiri Golkar dan pada akhirnya underbouwnya Pemuda Pancasila menjadi salah satu sayap Partai Golkar, PKRI  (Katolik) dan Parkindo (Kristen) yang juga merupakan partai anti PKI /PNI Asu yang diduga kuat dekat dengan Soekarno. Unsur PPP adalah NU yang keluar dari Masyumi, Parmusi yang merupakan lanjutan Masyumi yang telah digembosi Muhammadiyah, Syarikat Islam dan Perti. Sifat partai yang merupakan campuran ideologi tersebut menimbulkan ketidakkompakan di dalam tubuh partai, klaim PDIP sebagai partai marhaenis tentu menimbulkan masalah bagi kelompok Murbais dan faksi kecil lainnya, demikian pula klaim NU pada PPP menimbulkan ketidaksenangan pada kelompok Muslimin Indonesia.

Partai Bulan Bintang didirikan oleh Yusril Ihza Mahendra yang mengklaim menerima tahta Masyumi dari Muhammad Natsir. Klaim tersebut sah-sah saja karena Yusril Ihza Mahendra adalah Ketua DDII yang menggantikan M. Natsir. Tetapi, Masyumi sebagai partai yang diduga terlibat dalam PRRI merupakan partai yang diantisipasi dengan rapat oleh Pemerintah Orde Baru, dan DDII sebagai ormas yang diharapkan meneruskan Masyumi berhadapan dengan Parmusi yang secara politik mengaku sebagai partai penerus Masyumi di PPP. Sementara itu, HMI sebagai sayap Masyumi telah terbelah menjadi dua, yakni HMI Diponegoro yang telah menjadi semacam sayap Partai Golkar, dan HMI-MPO yang kemudian mewujud menjadi KAMMI yang pada akhirnya mendukung Partai Keadilan Sejahtera. Partai Keadilan Sejahtera ternyata kemudian lebih sukses mengembangkan jaringan dakwah yang disebut Jamaah Tarbiyah, yang kemudian diisukan disusupi Ikhwanul Muslimin dan menjadi ideologi ekslusif yang seakan-akan tidak memiliki hubungan dengan Masyumi. Ideologi PKS kemudian menjadi ideologi khusus yang bahkan dianggap berseberangan dengan NU, Muhammadiyah, Perti dan Muslimin Indonesia (Persis dan ormas lainnya) yang diwakili PAN, PPP, PKB dan PBB sendiri. PKS masih nampak partai yang berideologi, tetapi PBB gagal mengembangkan ideologinya dan akhirnya menjadi partai yang gagal menembus ET/PT.

Sisa enam partai lainnya, merupakan partai-partai yang tidak jelas ideologinya. Golkar didirikan oleh SOKSI, MKGR dan Kosgoro yang tokoh-tokohnya berasal dari ABRI. Tetapi partai ini kemudian juga menerima Pemuda Pancasila dari IPKI yang mungkin sehaluan, dan HMI Diponegoro yang merupakan lanjutan dari underbouw Masyumi. Partai ini juga kemudian menampung Tarbiyah Islamiyah yang merupakan pecahan dari Perti yang berfusi dengan PPP. Golkar memang menyatakan sebagai partai yang tanpa ideologi, bahkan pada masa Orde Baru, partai ini menyatakan sebagai bukan partai.

PKPI adalah partai yang didirikan oleh Edi Sudrajat dan Tri Sutrisno, purnawirawan TNI yang gagal bersaing dengan Akbar Tanjung. Demokrat didirikan oleh pendukung Susilo Bambang Yudhoyono yang mungkin merasa peluangnya tipis di Konvensi Capres Golkar. Partai Hanura didirikan oleh Wiranto, mantan pemenang konvensi capres Golkar, yang memprediksi bahwa di bawah kepemimpinan Jusuf Kalla peluangnya untuk maju mencapres lagi dari Golkar tipis. Gerindra didirikan Prabowo Subianto yang gagal pada konvensi Golkar, dan Nasdem didirikan oleh Surya Paloh yang kalah dalam pemilihan Ketua Umum Golkar dari Aburizal Bakrie.

Dari ke-12 partai yang ada tersebut, terlihat bahwa hanya PKS-lah yang masih mengandalkan ideologinya, sementara partai-partai yang lain lebih menjual pamor tokoh-tokoh partainya dan kekuatan individual calon legislatifnya, misalnya kepamoran seorang selebritis dan kekuatan balas budi (yang kemudian uang).

Restoris vs Reformis

Partai-partai yang ada merasakan bahwa harus ada visi misi yang jelas untuk mendorong segmentasi pemilih sebagaimana teori marketing modern. Di bawah Megawati trah Soekarno, PDIP diklaim sebagai partai wong cilik bagi kalangan buruh dengan ideologi marhaenisme. Partai ini juga pernah menyatakan untuk kembali ke UUD ‘45 yang asli. Partai Nasdem kemudian mencita-citakan kembalinya nilai-nilai luhur dengan istilah restorasi sebagaimana semangat UUD ‘45. Ideologinya seakan-akan tersirat untuk mengembalikan ke UUD ‘45 yang asli sebagaimana juga PDIP. PKB, Hanura dan PKPI yang bergabung kemudian, tidak memperlihatkan visi misi yang jelas mengenai hal ini, dan sebagai partner tentu hanya mengamini ideologi kedua pilar utama koalisi ini.

Koalisi yang didukung Gerindra diisi oleh partai-partai yang kebanyakan lahir dari alam reformasi. Prabowo pun kemudian menjamin akan melanjutkan program yang telah dijalankan oleh Demokrat dan rekan-rekan seraya memperbaiki yang bolong-bolong. PAN yang beruntung mengirimkan Ketua Umumnya sebagai Calon Wakil Presiden berdasarkan sejarah didirikan oleh Amin Rais yang digelari sebagai Bapak Reformasi. Reformasi sendiri berjalan setelah melakukan berbagai amandemen terhadap UUD ‘45, oleh karenanya mengembalikan konstitusi ke bunyi aslinya akan berarti mengkhianati reformasi. Meskipun Golkar merupakan partai warisan dari Orde Baru, tetapi Golkar termasuk partai yang ikut mengamandemen UUD, dan Golkar pun tidak memiliki kepentingan ideologis untuk mengembalikan konstitusi ke versi UUD ‘45 yang asli. Demikian pula, partai-partai pendukung lainnya seperti PKS, PBB dan PPP.

Dengan berkumpulnya partai-partai tersebut maka secara kebetulan arah koalisi terbagi atas 2 :

  1. Kekuatan restoris, PDIP + Nasdem yang didukung oleh PKB, Hanura dan PKPI mendukung pasangan (Joko Widodo + Jusuf Kalla).
  2. Kekuatan reformis, PAN + PKS + PBB + PPP + Golkar + Gerindra, dan idealnya juga + Demokrat (Prabowo Subianto + Hatta Radjasa).

Penulis
Kategori Demokrasi, Sejarah

←LamaBaru →