Ghobro » kritik

Tanggapan politisi Golkar atas sinisme Koalisi permanen : Koalisi Merah Putih

Dimuat
Komentar Tak-satupun

Tujuh partai pengusung Prabowo Hatta Senin, 14 Juli 2014, di Tugu Proklamasi Jakarta menandatangani piagam koalisi permanen di pemerintahan dan parlemen. Tujuh partai itu yakni :

  1. Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra)
  2. Partai Golongan Karya (Golkar)
  3. Partai Demokrat
  4. Partai Amanat Nasional (PAN)
  5. Partai Persatuan Pembangunan (PPP)
  6. Partai Keadilan Sejahtera (PKS)
  7. Partai Bulan Bintang (PBB)

Politisi Golkar yang membelot ke Jokowi-JK dan yang berharap mendapatkan jabatan dalam kabinet baru, tentu saja menolak keikutsertaan Golkar dalam koalisi tersebut. Politikus senior partai Golkar, Ginandjar Kartasasmita, keluarga dari Agus Gumiwang Kartasasmita yang dipecat Golkar, di Gedung perintis kemerdekaan Jakarta, Selasa, 15 Juli 2014 mengatakan keikutsertaan Partai Golkar dalam koalisi permanen itu diragukan keabsahannya. Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar, Yorrys Raweyai menuturkan keputusan Aburizal Bakrie dan Sekjen Idrus Marham yang membawa Golkar bergabung di koalisi permanen itu inkonstitusional karena dilakukan tanpa mekanisme partai. Luhut Panjaitan, politisi Golkar yang dipecat, yang menjadi tim sukses Jokowi,  menilai deklarasi koalisi permanen terburu-buru, koalisi permanen akan mengguncang internal Golkar jika Jokowi ditetapkan sebagai pemenang, katanya, Kamis 17 Juli 2014. Pendiri SOKSI, Kino Golkar, Suhardiman, yang memecat Ade Komarudin, Ketua SOKSI yang mendukung Prabowo Hatta,  menyatakan langkah Golkar yang tetap menempel pada Prabowo sangat keliru, tidak simpatik, dan membuat posisi Golkar sulit dan bisa ditinggalkan para kadernya, dinilai sebagai partai pecundang dan tidak ksatria menerima kekalahan. Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Agung Laksono menyatakan koalisi permanen itu tidak permanen, karena jika terjadi pergantian pengurus Golkar, koalisi tersebut dapat batal.

Bagaimana tanggapan pendukung KMP di Golkar

Dukungan Ketua DPD Golkar Jawa Barat , Irianto MS Syafiudin (Yance)

Partai Golkar harus menjadi partai oposisi. Koalisi Merah Putih permanen harus terbentuk hingga DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota."Bahkan kami mendesak DPP agar segera menginstruksikan pembentukan koalisi permanen ini ke daerah”, kata Yance sebagaimana dikutip rmoljabar.com usai menghadiri pengarahan Ketua Umum Partai Golkar di Cianjur Sabtu 9 Agustus. Bahkan, di Indramayu, kata Yance, Partai Hanura ikut ke dalam koalisi permanen (Merah Putih).

Menurut Yance, pembentukan koalisi permanen penting untuk penyeimbang antara pemerintah dengan dengan pihak legislatif. Dengan begitu ada harapan keinginan rakyat bisa terealisasi. “Dengan membentuk koalisi permanen ini, tidak berarti kami menolak program pemerintah yang bagus.”, kata Yance.

Kata Wasekjen Golkar, Lalu Mara Setia Wangsa, Koalisi Permanen untuk mempertahankan Pancasila

Menurut Lalu Mara, tujuan pembentukan koalisi permanen adalah :

  1. Mempertahankan Pancasila
  2. Mempermudah presiden terpilih melakukan komunikasi politik, karena tidak perlu lagi berkomunikasi dengan 10 parpol, tetapi cukup 2, yakni pemimpin koalisi.
  3. Memperkuat sistem presidensial dan mengefektifkan pemerintahan yang berjalan.
  4. Menjadi penyeimbang (bukan oposisi) agar tercipta check and balance sesuai tupoksi legislatif.
  5. Memperkuat mutu pilpres, karena capres hanya diusulkan dua kubu saja.

Dengan adanya koalisi permanen, tidak perlu lagi ada Parlemen Thresold dan Presidential Thresold karena ujungnya toh dua capres yang akan berlaga.

Ketua DPD I Golkar Gorontalo berharap Koalisi Permanen hingga Kabupaten Kota

Rusli Habibi, Ketua DPD I Golkar Gorontalo, Propinsi yang berhasil memenangkan Prabowo Hatta dengan telak, mengharapkan koalisi permanen Merah Putih diteruskan sampai ke kabupaten/kota. Minggu, 20 Juli 2014, Rusli Habibie mengharapkan agar KMP diwujudkan hingga ke Pilkada.

Penulis
Kategori Demokrasi, Organisasi

←LamaBaru →