Cut Nyak Din
Cut Nyak Din, ditulis oleh Mukhtaruddin Ibrahim, disunting oleh Sutrisno Kutoyo - Sri Sutjiatiningsih.
Perang Aceh yang berlangsung lama merupakan tantangan cukup berat bagi kolonialisme Belanda untuk melebarkan kekuasaannya di bumi Indonesia ini. Perlawanan heroik yang disuguhkan rakyat Aceh terhadap kolonialisme Belanda kiranya tidak akan terlupakan, terutama peranan dan partisipasi rakyat Aceh di wilayah VI Mukim. Rakyat VI Mukim turut memperkuat barisan perlawanan terhadap kolonialisme Belanda; dan yang mempunyai arti penting, wilayah ini melahirkan seorang " srikandi " vang terkenal bernama Cut Nyak Din. Namanya telah diabadikan sebagai "pahlawan nasional" dalam lembaran sejarah Indonesia.
Cut Nyak Din yang akan kita uraikan ini merupakan gambaran kaum wanita Aceh yang dari dahulu turut memegang peranan baik dalam bidang politik maupun bidang lainnya. Dalam menghadapi gelombang penjajahan, kaum wanita Aceh termasuk Cut Nyak Din tampil ke depan untuk memberikan komando perang. Tangkas, gigih dan tabah dalam mempertahankan tanah air, bangsa dan agama dari nafsu penjajahan Belanda. Mereka tidak rela tanah-air yang dicintainya diperkosa oleh penjajah.
Dalam uraian ini kita akan coba melihat, sampai seberapa jauh peranan dan keikutsertaannya sebagai seorang pejuang dalam periode Aceh 1873 — 1905, dan apa sumbangannya sebagai seorang istri kepada suami dalam hubungannya dengan perjuangan yang berlangsung.
Berbicara tentang Cut Nyak Din, akan tergambarlah kehidupan keluargannya yang memegang peranan penting diwilayah VI Mukim. Secara keseluruhan peranan penting wilayah VI Mukim tidaklah terlepas dari motor yang digerakkan oleh keluarga Cut Nyak Din.
Kemudian tampil pula Cut Nyak Din membawakan peranan baik aktif maupun pasif dalam menentang kolonialisme Belanda. Peranan yang dibawanya tidaklah terlepas dari peristiwa atau pertempuran yang terjadi antara rakyat Aceh melawan kolonialisme Belanda.
Cut Nyak Din tidak lama menikmati masa remaja, karena dalam usia yang sangat muda ia telah dikawinkan oleh orang tuanya. Perkawinan ini sesungguhnya tidak terlepas dari cita-cita orang tuanya untuk meneruskan kedudukan mereka sebagai penguasa di wilayah VI Mukim. Tetapi berkat bimbingan orang tua dan atas kebijaksanaan suaminya, Teuku Cik Ibrahim Lamnga, Cut Nyak Din tumbuh menjadi manusia ang dewasa dan dapat mengikuti irama rumah tangga yang dibina bersama suaminya. Dalam rumah tangga ia menjadi seorang istri yang bijaksana, sabar dan dapat mendorong suami untuk maju dengan sumbangan pikiran yang diberikannya.
Ketika tentara Belanda melancarkan serangan ke wilayah VI Mukim, ia hadapi dengan tenang dan ia rela berpisah dengan suaminya selama kurang lebih dua setengah tahun. Ia bersama anaknya yang masih bayi dan orang tuanya turut serta bersama rak>at meninggalkan kampung untuk menghindari kejaran musuh. Semua yang dialaminya dalam pengungsian menambah ketabahan dan kekokohan hatinya untuk menghadapi segala cobaan. Semangatnya makin tertempa dan mulailah tumbuh suatu benih perlawanan vang terus mekar dalam dadanya terhadap kolonialisme Belanda.
Kehadiran Teuku Umar di sampingnya makin membawa pengharapan setelah suaminya. Teuku Cik Ibrahim Lamnga. gugur. Hatinva semakin penuh, tekadnya tambah bulat untuk meneruskan perlawanan dan ingin membalas atas kekalahan suaminya. Hadirnya Teuku Umar dalam barisan perlawanan rakyat Aceh menambah kuat pula tokoh yang makin kokoh seperti Cut Nyak Din. Dalam menghadapi musuh ia memberikan dukungan moral yang sangat berharga dan pikiran yang berguna. Kemudian ia mengobarkan semangat rakat Aceh untuk terus memberikan perlawanan.
Darah bangsawan vang dimilikinya, vang diturunkan oleh Uleebalang Nanta. tidaklah membuat Cut Nvak Din merasa dirinya tinggi atau merasa lebih dari orang lain. Pergaulan yang luas mendekatkan ia dengan rakyat banyak, la tidak memandang enteng semua kekuatan yang ada. bahkan ia mendekati semua golongan baik rakyat, golongan bangsawan yang terdiri atas Uleebalang maupun golongan ulama menjadi kawan dalam menuju cita-citanya. Pegangan hidupnya adalah agama. Tindakannya jelas menunjukkan adanya persatuan kata dan perbuatan sehingga tidaklah heran banyak rakyat, ulama dan para tokoh Aceh sangat menyenanginya. Hidupnya sangat sederhana, tidak pernah terlintas dalam angan-angannya untuk hidup senang seperti kaum bangsawan lainnya. Semua tenaga dan pikirannya dicurahkan untuk perjuangan.
Ketika suaminya, Teuku Umar, mengubah siasat memihak kepada Belanda, Cut Nyak Din dengan bijaksana menyadarkan dan berusaha dengan berbagai cara untuk mengembalikan Teuku Umar ke jalan yang benar, jalan yang sedang ditempuh rakyat Aceh. Ia tidak selalu melihat pangkat dan harta yang didapat dari musuh, bahkan dengan tandas dikatakannya bahwa itu adalah suatu pengkhianatan terhadap bangsa. Ia menuntut kepada Teuku Umar supaya kaum penjajah Belanda diusir dari tanah Aceh, bukan menjilat dan menghambakan diri kepadanya.
Cut Nyak Din bergerilya selama 20 tahun bersama Teuku Umar. Ia ikut aktif mendampingi suaminya menjelajahi hutan, turut pindah dari tempat yang satu ke tempat yang lain mendampingi suami dalam pertempuran menghadapi musuh. Cut Nyak Din turut berperan sebagai motor penggerak yang mengantarkan Teuku Umar pada puncak kariernya sebagai pejuang sampai tewas oleh peluru Belanda.
Gugurnya Teuku Umar tidak membuat Cut Nyak Din patah semangat perlawanannya. Bahkan ia maju ke depan memimpin pasukan. Ia kembali mengadakan aksi sampai fisiknya menjadi lemah. Setelah lebih kurang enam tahun lamanya meneruskan perlawanan, ia tertawan bersama pasukannya. Kemudian ia diasingkan ke Pulau Jawa sampai wafat.
02.04.2011. 12:34






