Awas, Indonesia dikuasai binatang
Setelah dihebohkan cicak dan buaya, masyarakat Indonesia disibukkan berkeliarannya tikus, lumba-lumba dan lebah di kantor-kantor vital pemerintah dan gedung-gedung penting tempat pengambilan kebijakan penting. Binatang-binatang tersebut sebagian sebenarnya sudah ada yang terlihat masyarakat banyak, tetapi pada akhir-akhir ini mereka sendiri yang mengungkapkan jati dirinya.
Ketika tikus siap mengendus dan menggigit
Heboh bermula ketika Ical dari Golkar menjargonkan dirinya sebagai kepala gerombolan tikus. Kader Golkar harus siap mengendus dan menggigit, demikianlah kata Ical. Himbauan yang disampaikan dalam Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) Golkar tersebut dianggap formalisasi langkah Golkar yang memang cenderung dengan politik yang syarat korupsi, dagang sapi dan money politic. Intinya politik kotor. Legalisasi tersebut akan menjadi ancaman bagi citra politikus di mata masyarakat yang memang sudah terpuruk.
Lebah dan lumba-lumba
Bima Arya Sugiarto, politisi PAN menyarankan Golkar untuk meniru lumba-lumba. Menurutnya, lumba-lumba tidak individualis, bersih dan bersahabat.
Sementara itu, Lukman Hakim dari PPP mengungkapkan hewan yang lebah yang memiliki banyak manfaat namun siap menyengat bila diserang.
Konklusi
Penggunaan binatang sebagai simbol dalam politik sebenarnya sah-sah saja. Tetapi penggunaan tikus oleh Ical untuk Golkar sesungguhnya sangat mengherankan. Masyarakat yang terawam pun di Indonesia sudah tahu, apa makna tikus di dalam dunia politik. Apakah Ical tidak tahu, atau keceplosan?
17.07.2010. 00:04






