Surya Paloh, Golkar dan Nasdem
Ketua Dewan Pembina Ormas Nasional Demokrat (Nasdem) Surya Dharma Paloh 7 September 2011 resmi keluar dari Partai Golkar. Pria kelahiran Kuta Raja, Banda Aceh 16 Juli 1951 ini telah 43 tahun berkecimpung di Partai warisan Orde Baru tersebut. Pemilik Media Group yang memiliki harian Media Indonesia, Lampung Post dan Metro TV ini mengatakan antara dirinya dengan Partai Golkar sudah tidak saling membutuhkan.
Menurut Surya Paloh, organisasi politik berperan sebagai penggerak social engineering dan harus berdiri atas kejelasan sikap dan arah perjuangan untuk membimbing rakyat. Surya mengaku akan fokus untuk mengurus Nasional Demokrat karena kata dia, hidup dalam kultur partai politik hanya menjadi alat legitimasi segelintir elit dalam memenuhi nafsu kekuasaan tanpa beralaskan kepentingan konstituenya.Surya akan meneruskan masa pengabdian dengan mengurus Nasional Demokrat dengan mengambil resiko ditinggalkan teman, dimusuhi negara dan itu menjadi referensi jatuh bangun dalam karir politiknya. Surya juga menyadari sepenuhnya bahwa tidak semua golongan bisa menerima ide-ide perubahan, terlebih bagi kelompok yang sudah merasa nyaman dengan kondisi saat ini.
Surya Paloh terkenal tokoh muda yang kritis dari zaman orde baru. Pada tahun 1986, ia mendirikan harian Prioritas. Koran ini laku keras. Namun isinya dianggap kasar dan terlalu telanjang oleh penguasa Orde Baru. Alhasil SIUPPnya dicabut. Dua tahun Surya Paloh memohon SIUPP baru, tetapi tidak juga dikabulkan. Lalu Surya Paloh bekerja sama dengan Achmad Taufik menghidupkan majalah Vista. Tahun 1989, Surya Paloh bekerja sama dengan Drs. T. Yously Syah, pengelola dan pemilik Media Indonesia. Media Indonesia disajikan dan bentuk logonya dibuat seperti koran Prioritas.
Surya Paloh memulai aktivitas di Partai Golkar pada usia 16 tahun sebagai Koordinator Pemuda dan Pelajar pada Sekbe Golkar. Itu dilakukannya setelah Kesatuan Aksi Pemuda dan Pelajar Indonesia (KAPPI) yang menentang kebijakan rezim Orde Lama bubar. Surya Paloh memasuki saat kuliah di Universitas Sumatera Utara (USU) dan Fakultas Sosial Politik UISU. Saat itu, Surya adalah seorang pedagang ikan asin, teh, karung goni. Pria yang dibesarkan di Pematang Siantar ini pada tahun 1977 dalam usia 26 tahun terpilih sebagai anggota MPR.
Surya Paloh dua periode menjadi anggota MPR. Sikap kritisnya menyebabkan Surya Paloh tersingkir. Setelah Orde Baru bubar, barulah Surya Paloh naik kembali sampai terpilih jadi Ketua Dewan Pembina Golkar. Salah satu gagasannya adalah konvensi Golkar yang menaikkan pamor Golkar yang terpuruk pada Pemilu 1999 hingga menang pada Pemilu 2004. Saat pemilihan Ketua umum Golkar di Pekanbaru, Surya Paloh yang mengusung Golkar baru yang mandiri dikalahkan oleh Aburizal Bakrie yang mempertahankan ide kolaborasi dengan pemerintah.
Surya Paloh belum menjelaskan ke mana akan bergabung. Partai Nasdem yang dipimpin oleh kader muda Ormas Nasdem, Patrice Rio Capella yang mundur dari Ketua PAN Bengkulu ini mengharapkan Surya Paloh bergabung. Apakah terwujud? Kita saksikan.
07.09.2011. 22:38






