Tiga trend membangun fundamen 2014
Pemilu 2014 masih lama lagi. Tetapi sejumlah partai telah sibuk membangun fondasi awal menghadapi Pemilu 2014. Sejumlah langkah dilakukan, di antaranya akuisisi, konsolidasi dan konfederasi.
PT Naik 5%
Salah satu upaya yang getol dilakukan oleh partai-partai besar adalah menaikkan angka Parliament Thresold hingga 5%. Meskipun gagasan tersebut ditolak oleh partai yang khawatir eksistensinya hilang di Pemilu 2014 seperti PPP, namun dengan kegetolan partai-partai besar yang menguasai mayoritas kursi di parlemen, realisasi kenaikan PT tersebut sangat mungkin terjadi.
Berkaca dari pengalaman 2014, di mana banyak suara partai yang sia-sia, sejumlah partai parlemen sibuk berekspansi untuk meraih suara terbuang tersebut.
Trend Akuisisi Golkar
Golkar sebenarnya sudah lama menjalankan strategi akuisi. Pada era Suharto, dengan memecah Perti menjadi dua, Perti dan Tarbiyah Islamiyah, Golkar sukses mengakuisisi Tarbiyah Islamiyah menjadi ormas Golkar. Strategi seperti ini pulalah yang kini akan dijalankan Golkar ke sejumlah partai kecil. Diberitakan PBR telah bersedia berubah wujud menjadi ormas Golkar. Bachtiar Hamzah, Ketua Parmusi dikabarkan akan membawa organisasi di bawah naungan PPP tersebut untuk menjadi Ormas Golkar.
Konsolidasi PKB
Pecah kepengurusan, PKB terbelah menjadi dua kubu. Perpecahan tersebut berdampak signifikan pada perolehan suara PKB di Pemilu 2009. Sadar akan hal tersebut, kedua kubu PKB mengadakan aprosiasi konsolidasi dan dikabarkan kedua kubu sepakat untuk bersatu kembali.
Konfederasi PAN
Diberitakan PAN mengadakan pertemuan dengan partai-partai gurem non parlemen di antaranya PDP, PNBK, Partai Pelopor, Partai Patriot, PIB, PPD, PMB, dan PPDI. Dalam pertemuan tersebut, PAN menyosialisasikan gagasan konfederasi. Dengan konfederasi, eksistensi partai-partai gurem akan terjamin.
Tantangan dan Peluang
Ketiga trend yang dijalankan partai-partai tersebut memiliki tantangan dan kendala tersendiri. Konsolidasi misalnya membutuhkan waktu dan lika-liku proses yang tidak gampang. Negosiasi demi negosiasi cenderung buntu. Namun, apabila putus, maka hasil akhirnya akan semakin manis, sebab pada dasarnya, konstituen akan sangat bahagia jika konsolidasi benar-benar terlaksana.
Konfederasi juga merupakan solusi win-win bagi partai-partai yang bergabung. Para konstituen dan pengurus di bawah tidak akan terlalu kaget, karena mesin dan sistem lama masih berjalan. Dengan pengalaman koalisi dalam sejumlah pilpres dan pilkada selama ini, penjalinan kerja sama tidak akan terlalu sukar. Tinggal pembuatan aturan main yang adil dan rasional. Namun, konfederasi belum ada payungnya di Indonesia. Gagasan tersebut akan masih berbenturan dengan kepentingan-kepentingan partai-partai besar penguasa kursi di parlemen.
Akuisisi yang dijalankan Golkar juga langkah yang praktis. Secara umum, langkah ini tidak memerlukan sudah siap dilaksanakan karena tidak memerlukan payung hukum tersendiri dan telah berjalan. Namun, hasil dari akuisi belum tentu seperti yang diharapkan, sebab melebur dan menghilangkan identitas ke dalam wadah yang belum tentu memuaskan, belum tentu didukung jajaran pengurus dan anggota di bawah.
18.07.2010. 14:10






