Kenapa Rusuh
Pilkada Kuansing diwarnai rusuh. Tetapi bukan hanya di Kuansing, puluhan Pilkada di Indonesia juga berakhir rusuh. Dan tidak hanya pilkada, Sidang MPR, Sidang pengadilan, pertandingan sepakbola, konser musik, sempadan tanah, pembagian sembako, pembagian zakat, pembagian sedekah, pembagian BLT, antri BBM, Pemira dan penentuan tarif SPP pun bisa rusuh. Kenapa rusuh, padahal damai kan lebih indah?
Ketidakpuasan
Sidang MPR 1999 menghasilkan keputusan Megawati Soekarno Putri, pemimpin PDIP yang saat itu memenangkan Pemilu 1999 takluk kepada K.H. Abdurrahman Wahid. Para pemilih yang telah merasa yakin bahwa kemenangan Pemilu tersebut akan mewujud pada Sidang MPR tentu saja tidak merasa puas dan berbuat rusuh. Berbagai ketidakpuasan terbukti telah banyak menimbulkan kerusuhan, tidak hanya di negara kita tetapi juga mancanegara. Kesebelasan sepakbola yang dibiayai mahal-mahal dan membeli para pemain termahal takluk pada kesebelasan yang dibiayai dengan ongkos seadanya menimbulkan ketidakpuasan yang dapat saja menyebabkan stadion terbakar. Sidang pengadilan terhadap terdakwa yang menurut anggapan massa harus dihukum puluhan tahun tetapi ternyata hanya dihukum beberapa tahun saja, alokasi APBD yang menurut perhitungan rakyat yang menyaksikan jalanan yang banyak berlubang ternyata dialihkan untuk membangun perkantoran mewah dapat menimbulkan ketidakpuasan-ketidakpuasan yang berujung kepada kerusuhan.
Ketakutan
Ketakutan terbukti telah banyak menimbulkan kerusuhan. Para pengantri BBM di SPBU yang takut tidak kebagian bensin, pengantri BLT, pengantri daging korban, pengantri sedekah, pengantri zakat, pengantri tiket konser, pengantri tiket pertandingan yang takut tidak kebagian dapat tiba-tiba tidak sabaran dan kemudian saling injak, saling dorong, saling pukul dan pada akhirnya saling bakar.
Kecurangan
Berbagai kerusuhan juga diwarnai oleh faktor-faktor kecurangan atau dugaan adanya kecurangan. Massa merasa marah secara massal karena menganggap tidak diperlakukan dengan adil. Para perusuh kemudian menganggap hanya dengan melakukan kerusuhan, rasa ketidakadilan dapat terlampiaskan.
Keacuhan
Sejumlah elemen masyarakat menganggap bahwa jalan biasa, atau prosedur umum tidak akan mendapatkan tanggapan atau perhatian dari pihak yang berwenang. Berbagai kerusuhan terjadi di Makassar yang melibatkan banyak mahasiswa hanya karena menganggap hanya dengan jalan rusuh aspirasi akan diperhatikan.
Ketidakpercayaan
Banyak kerusuhan yang timbul terjadi karena ketidakpercayaan kepada sistem dan perangkat. Para pendukung salah satu calon dalam suatu pilkada tidak percaya bahwa sistem dan perangkat pemilihan akan benar-benar membuahkan hasil seperti yang semestinya. Massa menganggap bahwa telah terjadi jual beli antara lembaga penyelenggara dengan salah satu calon, antara pengawas dengan salah satu calon dan antara segala stake holder terkait dengan salah satu calon. Bahkan lebih parahnya, kalau pun akan dibawa ke MK, mereka juga beranggapan bahwa hanya uanglah yang akan memenangkan perkara.
Berbagai kerusuhan besar yang terjadi sebagaimana kita saksikan seringkali disertai ketidakpercayaan kepada hukum (negara). Oleh karenanya, para perusuh beranggapan hanya hukum rimbalah yang pantas ditegakkan. Dengan kata lain, para perusuh beranggapan anarkilah satu-satunya jalan.
Tangkap Dalang, Bukan Biang
Ketika kerusuhan sudah melewati masa puncak maka biasanya akan berakhir dengan sendirinya. Pada masa itu akan tergiringlah beberapa orang yang dianggap sebagai dalang kerusuhan. Tetapi belum pernah kita melihat bahwa tergiring orang-orang yang menjadi biang kerusuhan. Jika orang yang merupakan dalang kerusuhan atau yang dianggap dalang kerusuhan diproses, sementara biang kerusuhan dapat bebas berkeliaran, bayangkan apa yang menjadi pikiran dalam masyarakat? Tentu saja segumpal penasaran dan emosi yang siap meletup.
Damai, apakah tidak bisa?
Satu pertanyaan di dalam hati kita, apakah ada orang yang benar-benar ingin berada atau terjebak di dalam kerusuhan? Apakah damai tidak lebih menyenangkan?
14.04.2011. 04:44






