Ghobro » pribadi

Kebodohan Seorang Hamba

Dimuat
Komentar Tak-satupun

Hidup jauh di hulu anak sungai membuat peluang menjadi sempit. Peluang mencari rezeki, peluang mendapatkan pelayanan kesehatan dan peluang mendapatkan pendidikan. Untungnya, hidup di sana tidak membutuhkan banyak kebutuhan. Cukup sekedar makan, tidak lebih. Untuk makanan, selagi tangan mau menugal, selama itu beras ‘kan ada. Selagi mau berburu dan merawang, lauk ‘kan tetap ada. Satu-satunya yang perlu dibeli hanyalah garam, itu pun dapat ditukar dengan hasil hutan.

Penyakit pun tidak banyak hinggap. Tidak ada kanker, diabetes, asam urat dan stroke. Hanyalah kecelakaan kerja dan sedikit demam. Itu pun masih bisa ditawar dengan ramu-ramuan.

Di dalam belantara, tidak guna gelar. Tidak berguna tulis baca. Cukup kepandaian yang diwariskan turun-temurun sudahlah.

Lain Dulu Lain Sekarang

Itu dulu. Sekarang dengan jumlah penduduk yang bertambah dan kebutuhan lahan yang meningkat, tidak ada lagi tanah yang tersisa. Tanah belantara yang dulunya tidak berarti, sekarang diminati.

Mulanya, cukup bernilailah ditukar dengan kuda besi. Tetapi kuda besi tidak mau sembarang minum. Dan minumnya tidak cukup sekali. Maka, menukar hasil hutan pun sudah terasa merepotkan. Orang rimba pun terpaksa memulai mengumpulkan kertas-kertas yang tidak cukup dilihat, tetapi juga harus diraba dan diterawang.

Maka mencari tahulah si orang rimba, bagaimana cara mengumpulkan kertas-kertas itu. Tanah belukar yang terhampar luas rupanya merupakan mesin pengumpul yang paling efektif. Banyak juga yang gagal, tetapi tidak sedikit yang berhasil memanfaatkan peluang ini.

Alat Ajaib Pengantar Suara

Berangsur-angsur orang rimba mengetahui banyak keajaiban di dunia ini. Alat kecil yang segenggaman tangan ternyata dapat mengantarkan suara ribuan kilometer. Alat itu ternyata juga dapat mengirimkan gambar dan wajah.

Kemudian ada lagi yang lebih besar sedikit dari itu. Dengan hanya tali yang kecil, dapat mengirimkan ribuan huruf ke kertas dalam hanya hitungan beberapa detik dan atau menit.

Kebodohan bertambah setara dengan pertambahan ilmu

Suatu hari merenunglah si orang rimba. Dibandingkan beberapa tahun, telah terjadi peningkatan yang tajam ilmu pengetahuannya. Tetapi, seiring pertambahan ilmu tersebutlah, terasalah bertambahnya ketidaktahuan. Akhirnya, sadarlah ia, semakin bertambah ilmunya, bertambah pulalah kebodohannya.

Munajat Iskandari

Maka terdengarlah munajat Ibn Athaa’illah al Askandary:

(ILAHI, ANA ‘LJAHILU FI ILMI

FAKAIFA LA AKUNU JAHULAN FI JAHLI)

اِلٰهِى اَنَاالْجَاهِلُ فِى عِلْمِى
فَكَيْفَ لَا اَكُوْنُ جَهُوْلاً فِى جَهْلِى

“Tuhanku, akulah hamba yang bodoh dalam pengetahuanku,

maka bagaimana takkan lebih bodoh lagi dalam ketidaktahuanku.”

Penulis
Kategori Iskandary, Munajat

←LamaBaru →