Ghobro » saran

5 (Lima) Kerajaan Islam Tertua di Indonesia

Dimuat
Komentar Tak-satupun

Pelajaran sejarah Indonesia menyebutkan kerajaan Samudera Pasai sebagai kerajaan tertua di Indonesia. Pengajaran demikian dilakukan karena demikianlah temuan yang didapatkan dari sejarahwan Eropa yang mengajarkannya pada murid-murid sekolah formal tempo dulu. Tetapi benarkah demikian?

Salah satu sumber mengenai sejarah masuknya Islam di Indonesia adalah Hikayat Raja Pasai dan Sulalatus Salatin.

Hikayat Raja Pasai

Menurut Hikayat Raja Pasai, Syarif Mekah mendengar adanya negeri di bawah angin yang bernama Samudera. Dia mengutus Syeikh Ismail membawa perkakas alat kerajaan ke Samudera. Syekh Ismail kemudian melaksanakan perintah itu. Rute yang ditempuhnya :

  1. Negeri Mengiri, sebuah negeri Teluk dengan raja Sultan Muhammad, anak cucu Abu Bakar siddiq r.a. yang bersama  1(satu) orang puteranya ikut di bawah ke Samudera sebagai fakir.
  2. Negeri Samudera, dengan tempat berlabuh Teluk Teria dengan raja Merah Silu kemudian bergelar Sultan Malikus Saleh. Samudera kemudian dinamai negara Darul Islam. Sebagian penduduk yang tidak mau masuk Islam, mudik ke Ulu Pesangan dan kemudian menjadi Gayu (Gayo).

Sultan Malikus Saleh kemudian memperistri puteri Sultan Perlak.

Pada masa Sultan Malik al Mahmud, Sultan Malik al Mansur diantar ke Negeri Temiang.

Sulalatus Salatin

Syarif Mekah memerintahkan Syekh Ismail membawa perkakas kerajaan ke Samudera karena negeri ini akan menjadi tempat wali banyak yang akan jadi.

Rute perjalanan Syekh Ismail :

  1. Dari Mekkah ke Mu’tabari menjemput Sultan Muhammad keturunan Abu Bakar Siddiq r.a.
  2. Dari Mu’tabari, singgah ke Fansuri. Seluruh penduduk negeri Fansuri masuk Islam, tetapi ketika naik ke darat, tidak ada yang mampu membaca al Qur’an.
  3. Dari Fansuri, singgah ke Lamiri. Seluruh penduduk negeri Lamiri masuk Islam, tetapi ketika naik ke darat, tidak ada yang mampu membaca al Qur’an.
  4. Dari Lamuri, berlayar ke Haru. Seluruh penduduk negeri Haru masuk Islam, tetapi ketika naik ke darat, tidak ada yang mampu membaca al Qur’an.
  5. Fakir bertanya letak Semundra, kemudian berlayar berbalik, jatuh ke negeri Perlak. Sekaliannya diislamkannya.
  6. Dari Perlak berlayar ke Semundra. Ketika naik ke darat, Marah Silu lancar membaca al Quran. Maka diturunkan segala perkakas kerajaan. Syekh Ismail kemudian kembali ke Mekkah, Sultan Muhammad sang fakir tinggal.

5 Kerajaan Islam tertua

Ada 5 kerajaan Islam tertua di Indonesia, yakni :

  1. Kerajaan Fansur.
  2. Kerajaan Lamiri.
  3. Kerajaan Haru.
  4. Kerajaan Perlak.
  5. Kesultanan Samudera.

Islam Mappila

Agama Islam di sekitar segitiga Laut Andaman, Laut Lebu (Samudera Hindia) dan Selat Malaka berkembang pesat pada abad 13 dengan masuknya Islam para pedagang di bawah Serikat 500 dari 1000, suatu perserikatan dagang di bawah perlindungan raja Cola yang menguasai daerah ini pada awal milenium kedua Masehi. Perserikatan dagang tersebut selain menguasai monopoli perdagangan juga berpengaruh dalam politik di bawah raja muda Chola di Lamiri. Beberapa di antaranya bahkan masuk ke dalam istana, misalnya klan Mudaliyar. Puteri Adirama Mudaliyar menjadi permaisuri Raja Singapura kedua.

Pada masa kejatuhan Chola oleh Pandya dalam abad 13 M, di India kekuatan kerajaan-kerajaan Islam secara ekonomi dan politik mulai tumbuh. Kaum muslim Mappila di Malabar yang selama ini ruang geraknya terbatas mulai mendapat ruang. Peluang niaga baru perdagangan rempah-rempah dari Malabar, Maladewa, Hadramaut, Jazirah Arab, Laut Mediterania dan terus masuk Eropa sangat mengesankan. Saudagar Mappila yang memiliki jaringan dengan dunia Islam kemudian mendapat kedudukan terhormat.

Kata mappila konon berasal dari kata maham dalam bahasa Malayalam yang berarti besar atau mam yang berarti ibu dan pillai yang berarti anak. Kaum muslim menikahi wanita Kerala karena itu kaum muslim tersebut adalah menantu. Sebenarnya ada tiga golongan mappila, yakni Jonaka atau Conaka (Yavanaka) Mappila untuk kaum Muslim, Nasrani Mappila untuk kaum kristen pengikut Saint Thomas dan Juda Mappila untuk kaum Yahudi. Tetapi menurut penjelajah Portugis Ludovico d’ Varthoma, kata Mappilah berasal dari kata muflih yang berarti kejayaan. Sedangkan menurut Logan, dari kata maha yang berarti besar dan pilla yang berarti anak. Kata Yavanaka berarti Yunani.

Kaum muslim mappila saat ini merupakan kontributor utama perdagangan luar negeri India. Antara 3 hingga 4 juta muslim Mappila bekerja di Timur Tengah, utamanya Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Di negara-negara Arab dan Malaysia, kaum muslim Mappila juga dikenal sebagai Malabaris atau Malwaris.

Sejarah Islam Mappila

Di Mandala Tamil ada tiga kerajaan yakni Chera, Pandya dan Chola. Masjid tertua di India yakni Masjid di Kodungalur konon dibangun pada tahun 621 M oleh penguasa terakhir Dinasti Chera yang masuk Islam. Konon, Cheraman Peramal, raja Kodungallur di Malabar berziarah ke Mekah dan masuk Islam. Saat akan kembali ke Kerala, beliau jatuh sakit dan meninggal di Zafar, pantai Arab.Sebelum meninggal, beliau telah menulis surat kepada para kepala sukunya di Kerala. Kemudian Malik bin Dinar dan rombongan mendarat di Kodungallur dan bagian lain Keralla dan membangun 10 mesjid.

Tradisi Hindu dalam Keralolpathi secara umum menyetujui kisah tersebut. Perbedaanya, bahwa sebelum berangkat ke Arab, beliau telah membagi-bagi kerajaannya kepada keluarganya.Menurut M.G.S. Narayanan, raja Chera tersebut adalah raja Rama.

Yang menjadi catatan bagi sejarahwan dalam kronik Muslim dan kronik Hindu Brahminis tersebut adalah kemungkinan Perumal bertemu dengan Nabi Muhammad SAW berlainan dengan catatan bahwa keberadaan kerajaan Perumal adalah antara 800 – 1122 M. Prasasti di Masjid Madai ditanggalkan tahun 1124 M, dibangun oleh Malik bin Dinar, pendakwah pertama di ke Kerala.Prasasti di masjid tersebut dicatatkan hanya dua tahun sesudah ziarah Perumal. Kuburan Panthalayani Kollam, Malabar Utara, 782 M menunjukkan kemungkinan adanya muslim di Kerala pada abad 8 M.

Mappila Syafii bukan Hanafi atau Syiah

Penjelajah muslim Ibnu Batitah merasa terkejut ketika menemukan bahwa komunitas Mappila di dekat Calcutta adalah pengikut Imam Syafi’i, sementara umumnya muslim India bukan pengikut Syafi’i (kebanyakan adalah pengikut Imam Hanafi).

Kesultanan Fansur

Fansur adalah daerah pertama yang didatangi oleh Syekh Ismail. Tidak ada catatan yang jelas mengenai dinasti ini. Beberapa saat sebelum kedatangan Islam, daerah ini merupakan daerah penting bagi serikat dagang Tamil, yakni prasasti Lobu Tua yang dikeluarkan oleh serikat dagang tersebut. Tidak ada catatan mengenai Sultan pertama dinasti ini, apakah dari dinasti Panai, keturunan penguasa Chola atau keturunan pemimpin perserikatan dagang Chola.

Bersamaan dengan kemunculan kerajaan Aceh, Sultan Ibrahimsyah, pangeran dari Barus (Sungai di Tarusan, Pesisir Selatan Sumatera Barat) yang meninggalkan kerajaannya yang dihancurkan oleh Portugis dengan 1.000 pengikut menyusuri pantai barat Sumatera ke utara. Dari Batang Toru masuk ke Silindung. Di sini dia diminta menjadi raja, tetapi setelah mengangkat empat penghulu (empat pusaran) sebagaimana tradisi di Minangkabu, dia ke Bakkara dan menikahi puteri Raja Bakkara. Tetapi, sebagaimana Silindung, Bakkara tidak strategis untuk menjadi bandar. Beliau tinggalkan putranya yang kemudian menjadi Dinasti Sisingamangaraja. Kemudian beliau ke Pasaribu, saat ditanya asa ulul dia mengaku bermarga Pasaribu dari Batubara. Raja Pasaribu kemudian membujuknya tinggal di sana, tetapi Ibrahim yang memiliki ambisi untuk mengulangi kejayaan nenek moyangnya tidak berhenti. Bersama raja dari Empat Pusaran (Empat Suku) beliau melanjutkan pencarian negeri hingga akhirnya berada di Lobu Tua yang telah ditinggalkan. Tempat ini dinamainya sama dengan daerah asalnya yakni Barus.

Pada akhirnya, kesultanan baru ini pun jatuh dalam kekuasaan kesultanan Aceh.

Kesultanan Lamiri

Lamiri konon didirikan oleh imigran dari Sri Lanka. Lamiri menjadi pusat pertukangan di Asia Tenggara, terutama tukang batunya. Tetapi, kekuasaan wangsa ini berakhir setelah ditaklukkan oleh Rajendra Chola yang menyerang penguasa Wijayatunggawarman di Kadaram. Lamiri  kemudian dijadikan pusat kedudukan Gubernur Chola untuk Asia Tenggara.

Lamiri menjadi tempat kedua yang didatangi oleh Syekh Ismail, tidak jelas apakah penguasa tersebut bekas wangsa lama, keturunan Gubernur Chola atau dari perserikatan dagang. Tetapi kedudukan Lamiri sebagai pusat di segitiga utara Sumatera ini, kemudian digantikan oleh Pasai, Lamiri kemudian hanya menjadi kerajaan kecil.

Menjelang penaklukan Malaka oleh Portugis, pangeran Champa (Indocina) ditampung oleh Sultan Lamiri. Pada saat Malaka diduduki Portugis, dinasti Champa membangkitkan semangat pan-Islamisme di antara kerajaan-kerajaan di Aceh. Lamiri kemudian bergabung dengan konfederasi tersebut dan lama-lama Kerajaan Aceh bukan hanya besar di bekas kekuasaan Lamiri, tetapi separuh Sumatera dan Semenanjung Malaya.

Kesultanan Haru

Haru merupakan tempat ketiga yang didatangi Syekh Ismail. Hingga saat ini belum ada titik temu tentang letak Haru ini. Sultan Haru merupakan sepupu dari Raja Rokan yang berasal dari Rao (Kabupaten Pasaman) Sumatera Barat. Berdasarkan tradisi, raja Rao merupakan seorang dari atas angin yang menikahi puteri Raja Pannai.

Tidak seperti tiga kerajaan lainnya, Kesultanan Haru kemudian menjadi kerajaan yang besar di Sumatera Timur. Kekuasaannya membentang dari perbatasan Rokan hingga perbatasan Tamiang. Kesultanan ini akhirnya ditaklukkan oleh Kesultanan Aceh.

Dalam tradisi Aceh, raja yang ditaklukkan tersebut adalah Sibayak Raja Asahan yang untuk pembenaran pan-islamismenya Raja Asahan ini sebagaimana Raja Johor dan Raja Pahang dikatakannya diislamkan setelah ditaklukkan Aceh. Padahal menurut tradisi Melayu, justru pangeran Champa Syah Pau Ling yang menjadi asal usul raja Aceh diislamkan oleh Sultan Lamiri dan saudaranya Syah Indera Berma yang menjadi Menteri Malaka diislamkan oleh Sultan Malaka saat mengungsi dari Champa yang ditaklukkan bangsa Vietnam.

Kesultanan Perlak

Perlak adalah tempat keempat yang didatangi Syekh Ismail. Sultan Perlak adalah mertua dari Sultan Pasai Pertama. Berdasarkan tradisi Melayu, kerajaan ini pernah mengadu pahlawan ke Singapura, yakni pada masa pemerintahan Raja ketiga Singapura, Seri Rakna Wikrama. Mangkubumi Perlak, Tun Perpatih Pandak membawa pahlawannya yang bernama Benderang diadu dengan pahlawan Singapura Badang.

Menurut tradisi Melayu, setelah anak Sultan Malikus Saleh dari Puteri Ganggang Perlak yakni Malikut Tahir dan Malikul Mansur besar, Perlak dikalahkan oleh Siam, dan orang Perlak kemudian pindah ke Samudera. Berakhirlah kesultanan Perlak.

Kesultanan Samudera

Samudera merupakan tempat terakhir yang didatangi oleh Syekh Ismail. Samudera merupakan negeri yang betul-betul baru yang didirikan oleh Marah Silu. Marah Silulah orang pertama di Asia Tenggara yang mendapatkan gelar Sultan yang dinobatkan oleh Syarif Makkah.

Sultan Malikus Saleh kemudian mendirikan negeri baru, yakni Pasai. Kemudian pada masa Malikut Tahir, Malikul Mansur dirajakan di Tamiang.

Meskipun pernah mengalami penaklukan Siam dan Majapahit, Pasai bersama-sama Haru dan Malaka merupakan kesultanan terbesar di Selat Malaka pada masanya. Kesultanan ini menjadi penting, karena para penyebar islam di nusantara berasal usul dari sini. Kesultanan Pasai diakhiri oleh Portugis pada tahun 1521, lebih kurang 10 tahun setelah penaklukan Malaka oleh Portugis.

Penulis
Kategori Sejarah, Hikayat

←LamaBaru →