Ghobro » saran

Analogi Perang Gajah dan Perang Badar dalam Pilpres 2014

Dimuat
Komentar Tak-satupun

Analogi Perang Badar dikemukakan oleh Bapak Reformasi Amin Rais dalam Pilpres 2014. Analogi tersebut dianggap berbahaya oleh kubu Revolusi, misalnya Wakil Ketua DPD PDIP Yogyakarta yang menyatakan pilihan kata perang bisa disalahi makna dengan membunuhi lawan. Namun, penganalogian kata perang ternyata tidak berhenti. Selain istilah Perang Badar, juga mengemuka istilah Perang Gajah. Relevankah?

Penggunaan kata perang

Sebenarnya penggunaan kata “perang” di luar konteks “menggunakan senjata” sudah lazim digunakan. Kita sudah biasa mendengar kata “perang bintang” misalnya di lapangan sepakbola. Kita juga sering mendengar kata “perang” dalam pertarungan bisnis dan marketing. Oleh karenanya, jika ada yang mempermasalahkan kata perang, maka terpulang pada pribadinya.

Perang Badar

Perang Badar adalah pertempuran besar pertama antara umat Islam melawan musuh-musuhnya yang terjadi pada tanggal 17 Maret 624 M atau 17 Ramadhan 2 H. Pasukan kecil kaum muslimin yang hanya berjumlah 313 orang berhadapan dengan 1.000 orang pasukan Quraisy Makkah. Setelah bertempur habis-habisan selama 2 jam, pasukan Muslim berhasil menghancurkan barisan pertahanan Quraisy yang kemudian mundur dalam kekacauan.

Analogi Perang Badar dengan Pilpres

Penganalogian Perang Badar dengan Pilpres kalau memperhitungkan kekuatan partai-partai Islam yang bergabung dengan Gerindra, disusul Golkar dan kemudian Demokrat tentu saja bukan analogi yang pas kalau didasarkan pada perbandingan kursi.

 Koalisi Merah Putih pendukung Prabowo-Hatta dengan perhitungan kursi :

1. Partai Gerindra 73 kursi.

2. Koalisi Partai Islam : 128 kursi.

Partai Amanat Nasional : 49 kursi.

Partai Keadilan Sejahtera : 40 kursi.

Partai Persatuan Pembangunan : 39 kursi.

Partai Bulan Bintang   : 0 kursi.

3. Partai Golongan Karya : 91 kursi.

Total kursi partai pengusung : 292 kursi.

Partai simpatisan : Partai Demokrat : 61 kursi.

Total kursi pendukung : 353 kursi.

Koalisi Revolusi Mental pendukung Jokowi – Jusuf Kalla dengan perhitungan kursi :

1. PDIP : 109 kursi.

2. Partai Kebangkitan Bangsa : 47 kursi.

3. Partai Nasdem : 35 kursi.

4. Partai Hanura : 16 kursi.

5. Partai PKPI : 0 kursi.

Total kursi : 207 kursi.

Dari perbandingan kursi, diketahui Koalisi Merah Putih pendukung Prabowo Hatta memiliki 63% kursi di DPR, sementara Koalisi  Revolusi Mental pendukung Jokowi – Jusuf Kalla hanya memiliki 37% kursi di DPR. Artinya, jika perbandingan kursi dijadikan patokan analogi Perang Badar tidak pas.

Perang Gajah

Perang Gajah adalah perang yang terjadi pada tahun 571 M. Perang ini terjadi karena ambisi Abrahah bin Al Shoba’ah, Gubernur Kerajaan Habasyah (Ethiopia) di Yaman, yang ingin memindahkan tujuan haji bangsa Arab dari Ka’bah di Makkah ke Gereja Al Qalies di Shan’a, gereja besar yang dibangunnya. Abrahah menulis surat kepada raja Najasyi,“Sungguh saya telah membangun untukmu sebuah gereja yang belum ada tandingannya dan saya tidak berhenti sampai saya memalingkan haji bangsa Arab.” Abrahah bersumpah akan menghancurkan Ka’bah dan memberitahu raja Najasyi tentang hal itu, lalu raja Najasyi menghadiahkan seekor gajah besar bernama Mahmuud. Kemudian ia berangkat dengan pasukannya ke Mekkah dan hal ini didengar bangsa Arab.

Dzu Nafar, seorang kepala kabilah Arab keluar, namun kalah dan ia ditawan. Di Khots’am, perlawanan bangsa Arab yang dipimpin Nufail bin Habib al Khots’amy pun dipatahkan, dan Nufail juga tertawan. Bangsa Arab ketakutan. Melewati daerah Tho’if, Mas’ud bin Mu’tib bersama beberapa tokoh kabilah Tsaqif dan Mas’ud menyatakan tunduk dan mengutus Abu Righal sebagai penunjuk jalan. Di Al Mughammas, Abu Righal mati. Lalu Abrahah mengirim seorang Habasyah bernama Al Aswad bin Maqshud bersama pasukan berkudanya lalu mengambil ternak orang Mekkah di Al Araak, di antaranya 200 ekor unta Abdul Muthalib.Abrahah mengutus Hanathoh al Himyaary menyampaikan kepada pemuka Mekkah bahwa ia hanya ingin menghancurkan ka’bah, kecuali bila melawan maka ia akan menghancurkan penduduk Mekkah.

Berkata Abdul Muthalib kepada Hanathoh,

“Kami tidak punya kekuatan, kami akan membiarkan Ka’bah dan apa yang akan terjadi, karena ia adalah Rumah Alloh dan rumah kekasih-Nya Ibrohim. Jika Allah melindunginya maka ia adalah rumah-Nya dan bila membiarkannya maka kami tidak punya kekuatan untuk mencegahnya.” Lalu Abdul Mutholib mendatangi Abrahah dengan perantara Anies pawang gajah Abrahah.

Bertemulah Abdul Mutholib dengan Abrahah dan meminta kembali unta-untanya, maka Abrahah berkata melalui penerjemahnya: “Saya tadinya sangat mengagumimu dan sekarang tidak lagi.” Abdul Mutholib Tanya: “mengapa?” Ia menjawab, “Saya datang ke rumah yang menjadi agamamu dan agama kakek moyangmu untuk menghancurkannya, lalu kamu tidak bicarakan hal itu sama sekali, malahan kamu hanya membicarakan 200 ekor untamu saja.”

Maka Abdul Mutholb berkata: “Saya pemilik unta tersebut dan Ka’bah punya pemilik yang akan melindunginya darimu.” Abrahah berkata: “Tidak mungkin mencegahku.” Abdul Mutholib menjawab: “Terserah kamu.”

Lalu Abrahah menyerahkan untanya dan ia pun pulang dan memerintahkan penduduk Mekkah untuk mengungsi di gunung dan lembah-lembah khawatir terkena akibat peperangan tersebut.

Lalu Abrahah pun bersiap-siap masuk Mekkah dan menunggangi gajahnya dengan berdiri. Ketika ia menggerakkan gajahnya, maka gajahnya berhenti hampir tersungkur di tanah dan menderum, lalu ia pukul kepala gajah tersebut untuk maju dan ia enggan maju dan ketika dihadapkan ke arah lain, gajah tersebut berlari. Kemudian diarahkan lagi ke Mekkah dan ia berhenti lagi. Kemudian Alloh kirim burung Ababiel dari arah laut, setiap burung membawa tiga batu, satu di paruhnya dan dua di kakinya dan melemparkannya kepada pasukan gajah tersebut. Tidak ada seorang pun yang terkena kecuali binasa. Maka porak porandalah pasukan Abrahah dan Abrahah lari terbirit-birit ke Yaman dalam keadaan sakit berat sampai di kota Shan’a kemudian binasa.

Kisah ini dikisahkan dalam Al Quran Surat Al Fi’il.

Analogi Perang Gajah dengan Pilpres

Penganalogian perang gajah dengan pilpres dilatari beberapa alasan :

  1. Popularitas Jokowi sebelum penetapan koalisi yang tinggi menyebabkan banyak tokoh yang tunduk dan bergabung ke kubu Jokowi – JK karena merasa tidak ada peluang untuk mengalahkan popularitasnya.
  2. Jokowi-JK didukung oleh hampir seluruh media besar sebagai “kekuatan/senjata perangnya” yang sulit dihadapi, dan saat ini Koalisi Merah Putih hanya didukung oleh MNC Group dan Viva Group melawan raksasa media, MEDIA INDONESIA, KOMPAS, TRIBUN, TEMPO, JPNN, SCTV, DETIK dan sebagainya.
  3. Jokowi-JK didukung oleh kekuatan konglomerat yang besar, di Kubu Jokow-JK, selain Jusuf Kalla sendiri, ada Luhut Panjaitan, Sofyan Wanandi, Sihar Sitorus, James Riady, Edward Soerjadjaja, Lukminto bos Sritex, Imelda Tio bos Paragon Group, Prajogo Pangestu, Rusdy Kirana, Gunawan Mohamad, Stan Greenberg, Salim Group/ Chairul Tanjung dan 60 konglomerat lainnya. Sementara Prabowo Hatta hanya didukung oleh Hashim Djojohadikoesoemo, Aburizal Bakrie, Harry Tanusudibyo dan Sandiaga Uno.

Kubu Prabowo – Hatta ibarat bangsa Arab yang banyak tetapi tidak memiliki kekuatan senjata (media) dan uang yang cukup untuk melawan kekuatan Jokowi_JK yang ibarat Abrahah yang memiliki kekuatan senjata (media) yang lebih besar dan dana yang lebih besar.

Maka, agar dapat memenangkan perang tersebut, Koalisi Merah Putih hanya dapat melakukan dengan cara-cara:

  1. Kesadaran/persatuan bersama yang kuat.
  2. Banyak-banyak shalat malam apalagi di saat sekarang ini, bulan Ramadhan.

Benarkah analogi tersebut?

Benarkah analogi tersebut? Perlu riset yang mendalam.

Selain kedua istilah tersebut, dalam pilpres 2014, juga mengemuka istilah:

  1. Perang Baratayuda
  2. Perang Jenderal
  3. Perang Sosmed

Penulis
Kategori Hikmah, Strategy

←LamaBaru →