Ghobro » saran

Kisah Cinta Prabowo Titik

Dimuat
Komentar Tak-satupun

Capres Prabowo Subianto adalah satu-satunya di antara pasangan capres – cawapres yang menjomblo. Kondisi ini menyebabkan Prabowo sering disindir lawannya, selain itu juga mendapat gurauan dari Jupe. Prabowo juga digosipkan memiliki hubungan istimewa dengan wanita Thailand. Di samping itu juga dikaitkan dengan Widyawati, janda almarhum Sopan Sophian, Maia Estianty janda Ahmad Dhany dan Irene, dokter cantik pengurus Gerindra. Gosip itu berasal dari Wikileaks berdasarkan kawat diplomatik Kedubes AS bernomor 06JAKARTA8261_a tanggal 3 Juli 2006 itu disebutkan, Prabowo sering terbang ke Bangkok untuk menemui pacarnya.Sumber berita adalah politikus Golkar, Poempida Hidayatullah yang disebut pernah dekat dengan Prabowo dan sekarang mendukung Jokowi.

Profil Prabowo

Letjen TNI Purn. H.Prabowo Subianto Joyohadikusumo lahir di Jakarta, 17 Oktober 1951. Menyelesaikan pendidikan dasar dalam waktu 3 tahun di Victoria Institut, Kuala Lumpur. Sekolah Menengah selama 2 tahun di Zurich International School, Swiss (1963-1964) dan SMA di American School London (1964-1967). Dipengaruhi figur pamannya, Subianto Joyohadikusumo yang gugur dalam Pertempuran Lengkong, 1946, Prabowo menolak undangan dari Universitas ternama Amerika dan memilih memasuki Akademi Militer Magelang, tahun 1970.

Tahun 1976, Prabowo menjadi komandan termuda dalam operasi Tim Nanggala sebagai Komandan Peleton Grup I Para Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha) dan berhasil menewaskan perdana menteri pertama Timor Timur, wakil ketua Fretilin, Nicolau dos Reis Lobato. Pada tahun 1992, Letnan Kolonel Prabowo berhasil menangkap Xanana Gusmao. Pada tahun 1996, sebagai Komandan Kopassus  melalui operasi pembebasan sandera Mapenduma, Prabowo Subianto berhasil menyelematkan 10 dari 12 peneliti Ekspedisi Lorentz ‘95 yang disandera OPM.

Profil Titiek Prabowo

Pernikahan Soeharto dan Siti Hartinah (Bu Tien) melahirkan 6 orang anak, yakni :

  1. Siti Hardiyanti Hastuti, lahir 23 Januari 1949  yang lebih dikenal dengan Mbak Tutut, mantan Menteri Sosial dan pemilik Citra Lamtoro Gung Persada.
  2. Sigit Harjojudanto, pendiri Arseto Solo (diambil dari nama anaknya Ario dan Seto).
  3. Bambang Trihatmojo, pemilik Bimantara Grup, yang lahir pada tahun 1953, pernah menikahi putri Azwar Anas, Halimah Agustina Kamil dan kemudian menikah dengan artis Mayang Sari.
  4. Siti Hediati Hariyadi lahir di Semarang, Jawa Tengah, 14 Oktober 1960. Komisaris Utama PT. Abhitama yang membeli saham PT. Surya Citra Media,Tbk.
  5. Hutomo Mandala Putera, pemilik Humpuss.
  6. Siti Hutami Endang Adiningsih (Mbak Mamiek), lahir 23 Agustus 1964 adalah Insinyur pertanian IPB, pemilik Grup Manggala Kridha Yudha yang memiliki Taman Buah Mekar Sari.

Perjodohan Prabowo Titiek

Prabowo remaja dikenal sebagai seorang aktivis. Dikabarkan  Prabowo remaja berusia 16 tahun bersama aktivis Soe Hok Gie dan aktivis Malari Jusuf Abraham Rawis (Jusuf AR) yang sekarang pengusaha mendirikan LSM pertama di Indonesia yang dinamakan Lembaga Pembangunan. LSM ini bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat desa dengan kegiatan di antaranya mengadakan kegiatan pengobatan gratis korban busung lapar Gunung Kidul, Yogyakarta, perbaikan irigasi sungai yang buruk di desa.

Keasyikan dalam dunia aktivis dan militer menyebabkan Prabowo kurang sukses dalam perjodohan. Barulah, setelah Wismoyo Arismunandar komandannya memperkenalkan dengan Titiek, perjodohan itu serius. (Ada yang mengatakan yang lain selain Wismoyo).

Kisah petikan dari Sudut Pandang

(http://soedoetpandang.wordpress.com/2013/10/10/panas-dingin-hubungan-keluarga-sumitro-djojohadikusumo-dengan-keluarga-soeharto/)

Pernah Prabowo memiliki beberapa teman wanita, tetapi Sumitro sang ayah hanya memperhatikannya sambil lalu. Barulah ketika Titiek dibawa, Sumitro memperhatikan. “Siapa wanita ini? She looks familiar.” Prabowo hanya menjelaskan bahwa pacarnya termasuk salah satu murid Sumitro.

[Suatu hari kelak, Sumitro mengetahui pula bahwa Titiek pernah harus mengulang mata kuliah yang diajarkan Sumitro, lantaran tidak lulus! Sumitro memang tak mengenal satu per satu mahasiswanya sebab kuliah-kuliah yang dibawakan Sumitro senantiasa dipenuhi mahasiswa, sehingga ia tak mengetahui bahwa salah satu pesertanya ialah anak presiden. Diketahui pula bahwa Titiek tak pernah berani duduk di depan, sebaliknya lebih senang di bangku belakang].

Sumitro baru belakangan mengetahui bahwa gadis tadi anak Cendana. Ia juga belum tahu persis apakah Prabowo serius entah tidak menjalin hubungan tersebut. Mengingat kali ini pacar Prabowo adalah anak Cendana, maka pikir Sumitro, “If Prabowo is not serius, he’ll be in trouble.” Tak terbayang­kan oleh Sumitro kalau Prabowo sampai mempermainkan anak Presiden. Dan, hal ini disampaikannya kepada putranya tersebut, “Kalau kali ini kamu tidak serius, payah deh kamu.”

Diperoleh lagi kabar bahwa Prabowo sudah membawa seorang teman wanitanya berkunjung ke kediaman Ibunda Sumitro di kawasan Matraman, Jakarta Timur. Ini berarti Prabowo serius, sebab yang paling disegani oleh anak-anak Sumitro adalah neneknya. Ibunda Sumitro mengemukakan bahwa ia mempunyai kesan yang baik terhadap teman wanita Prabowo tersebut. Pendek kata, sikapnya tampak baik, lemah-lembut dan sopan. Nenek Prabowo belum mengetahui siapa Titiek sebenarnya, hanya mengira ia anak Yogya yang kuliah di Jakarta dan mondok di kawasan sekitar Menteng. Prabowo agaknya masih menyembunyikan identitas Titiek.

Dalam kunjungan kedua kali ke Matraman, anak kemenakan Sumitro justru mengenalinya dan ia memberitahu kepada Ibunda Sumitro bahwa teman Prabowo itu putri Presiden. Kontan saja nenek Prabowo terperanjat! Semenjak itu sikapnya justru agak berubah. Bukannya tak setuju, melainkan ia sangat anti feodal. Dia tahu Ibu Tien berasal dari Mangkunegara, alhasil sangat feodal. Ini tentu sangat berbeda dengan latar belakang budaya Ibunda Sumitro yang berasal dari Jawa Timur. (Ibunda Sumitro pernah meminta suaminya, Margono Djojohadikusumo, agar jangan menggunakan gelar kebangsawanan KRT, seraya menolak tinggal di Solo).

Namun, baik Sumitro maupun Ibu Sumitro, sesungguhnya cukup tertarik dengan kepribadian Titiek yang dinilai sangat rendah hati dan sopan. Jadinya, muncullah kebimbangan!

+++

Pada suatu waktu di sela upacara yang berlangsung di Istana Merdeka, Ibu Tien mendekati Sumitro, setengah berbisik ia bertanya, “Eh, Pak Mitro, bagaimana?”

“Baik-baik saja, Bu,” jawab Sumitro, tak mengira bahwa bukan itu sesungguhnya yang dimaksud Ibu Tien.

“Bagaimana anak-anak kita?” ulang Bu Tien lebih jelas.

Baru Sumitro mengerti arah pertanyaan Ibu Tien, dan Sumitro dengan berlagak pilon menjawab, “Ya, bagaimana Bu, kita serahkan saja pada anak-anak kita.”

“Ya, tapi kita diam-diam saja, jangan diumumkan dahulu,” tambah Ibu Tien lagi.

Dalam adat Jawa, sebetulnya Ibu Tien tidak patut bertanya demikian, mengingat hubungan Prabowo-Titiek belum pasti benar. Tapi, Sumitro senang juga, berarti Ibu Tien dalam hal ini sudah tidak terlalu kaku dalam memegang adat Jawa.

Tak seberapa lama setelahnya datang lagi Tjoa Hok Sui—orang kepercayaan Probosutedjo dalam mengurusi impor cengkeh—dan berkata kepada Sumitro mengenai hal yang sama, bahkan mendorong Sumitro agar meresmikan segera hubungan Prabowo-Titiek.

Sumitro masih bingung harus bagaimana, lantas bertanya kepada Prabowo mengenai keseriusannya. Prabowo sendiri belum mengerti adat Jawa, yang dinilainya irasional, dan menganggap aneh banyak orang yang hendak ikut campur dalam hubungannya dia dengan Titiek. Ia menjawab, “Ya, nanti saya lamar.” Prabowo terkejut saat diberitahu bahwa ia tidak boleh melamar sendiri, melainkan harus pihak keluarga yang datang.

Agak sulitnya terjalin hubungan yang akrab, menurut analisis Sumitro, bersumber dari perbedaan kultur di antara kedua keluarga. Soeharto dari Yogya dan isterinya berasal dari lingkungan keraton Mangkunegara. Kombinasi ini tentu saja membentuk sebuah keluarga yang sangat kental warna Jawanya: amat feodal. Sebaliknya, keluarga Sumitro sangat berbeda dalam tradisi yang terbuka, egaliter, sangat modern, basil pendidikan barat, dan dalam banyak hal justru “tak paham” dengan tradisi Jawa. Isteri Sumitro berasal dari Minahasa yang lama hidup di Eropa, sedangkan Sumitro sendiri dibesarkan keluarganya di daerah Banyumas yang memiliki tradisi “memberontak”.

Melalui emisario (utusan khusus)—yang sebenarnya berfungsi semata-mata untuk mencegah kehilangan muka—ada pemberitahuan bahwa keluarga Sumitro Djojohadikusumo sudah dapat datang melamar ke keluarga Soeharto. Sebelumnya Sumitro telah memutuskan bahwa ia akan datang melamar tanpa menggunakan bahasa Jawa priyayi (kromo inggil), melainkan dengan bahasa Indonesia. Pikirnya kala itu, “Isteri saya orang Minahasa, bukan Jawa, jadi nggak mengerti bahasa Jawa. Saya ingin siapa pun, termasuk besan saya, harus menghormati isteri saya. Kalau nggak mau, ya, nggak apa-apa. Kalau mereka menganggap ini kurang sopan, ya, that’s too bad.”

Dalam jawaban atas lamaran yang disampaikan Sumitro, maka Soeharto menjawab, “Pak Mitro, tentu kita betul-betul merasa bahagia, tapi saya harus bicara juga sama kedua anak ini terlebih dahulu untuk kasih nasehat. Bagaimanapun juga, pasti masyarakat luas akan menyoroti ini, mengingat saya sebagai kepala negara dan Pak Mitro sebagai cendekiawan terkemuka.”

Sumitro memahami “kecemasan” Soeharto mengingat dua anak ini: yang satu seorang perwira tapi tak mengerti adat Jawa, dan yang wanita masih suka disco.

Singkat cerita keluarga Soeharto menerima lamaran keluarga Sumitro dengan baik dan dengan penuh sikap hormat. Terlebih-lebih Ibu Tien terlihat amat bahagia. Mungkin sudah lupa olehnya bagaimana “luka-luka” tempo hari ditolak Sumitro ihwal impor cengkeh.

Pernikahan Prabowo Titiek

Pada bulan Mei 1983, Prabowo dan Titik resmi menikah. Saksi pernikahan adalah Jend. M. Yusuf, jenderal asal Sulawesi yang berperan dalam sejarah Orde Baru. Pernikahan tersebut membuahkan seorang anak bernama Didiet Prabowo, yang merupakan desainer kelas dunia di Paris, perancang desain mobil mewah BMW.

Keluarga yang berbeda Tradisi

Setelah menjadi besan, hubungan keluarga Sumitro-Soeharto dilukiskan berjalan secara normal, dalam artian tak dapat dikatakan jauh, tapi juga tak bisa dibilang mesra. Beberapa kali bahkan diwarnai perbedaan pendapat.

Agak sulitnya terjalin hubungan yang akrab, menurut analisis Sumitro, bersumber dari perbedaan kultur di antara kedua keluarga. Soeharto dari Yogya dan isterinya berasal dari lingkungan keraton Mangkunegara. “Kombinasi” ini tentu saja membentuk sebuah keluarga yang sangat kental warna Jawanya: amat feodal. Sebaliknya, keluarga Sumitro sangat berbeda dalam tradisi yang terbuka, egaliter, sangat modern, basil pendidikan barat, dan dalam banyak hal justru “tak paham” dengan tradisi Jawa. Isteri Sumitro berasal dari Minahasa yang lama hidup di Eropa, sedangkan Sumitro sendiri dibesarkan keluarganya di daerah Banyumas yang memiliki tradisi “memberontak”. Sumitro menjelaskan bahwa silsilah keluarganya sebetulnya juga berasal dari Yogya, namun dari kelompok pemberontaknya, sehingga harus terusir ke Banyumas. Leluhurnya ialah Pangeran Diponegoro dan Pangeran Moerdoningrat.

Sumitro mengemukakan bahwa ia tidak mungkin dapat menempatkan diri dalam suasana keluarga yang sangat Jawa seperti di keluarga Soeharto. I can’t do that, daripada saya harus munafik.” Sumitro menyadari bahwa pribadinya sangat berbeda, dengan kebiasaan untuk senantiasa bersikap terbuka, dalam mengutarakan sesuatu tak ada yang perlu ditutup-tutupi. Semuanya serba terus-terang.

Namun, keluarga Soeharto tetap menghormati adanya perbedaan kultur tersebut.

Salah satu kritik Sumitro yang membuat merah panas telinga Presiden ialah sinyalemennya mengenai kebocoran 30 persen dana pembangunan. Dari kasus ini, kian tebal kesan yang tertangkap oleh Sumitro bahwa Soeharto semakin memerintah bak seorang raja.

Dalam saat-saat berlebaran atau di hari ulang tahun Soeharto dan Bu Tien, keluarga Sumitro tetap diundang ke Cendana.

Sebagai akibat akumulasi dari berbagai persoalan, hubungan keluarga Sumitro-Soeharto mulai agak renggang semenjak sekitar tahun 1995. Sumitro sebagaimana diketahui tetap dengan sifatnya yang terbuka dan merdeka. Ia, umpamanya, masih merasa bebas berkunjung dan mengundang H.R. Dharsono, semata-mata didorong oleh perasaan tak bisa melupakan segala kebaikan Dharsono selama Sumitro berada di pembuangan, di London. Perasaan ini nyatanya tetap hidup, dan jauh lebih penting ketimbang “kewajiban” menyenangkan hati Soeharto, yang notabene merupakan musuh politik Dharsono. Kecuali itu, Sumitro juga tak pernah berhenti melancarkan kritik-kritiknya yang tajam terhadap jalannya pembangunan. Sumitro tak mengenal kamus off the record. Bila mengatakan sesuatu memang itulah maksudnya. Ia mengupas berbagai persoalan secara gamblang dan ungkapannya ditujukan pada persoalannya dan bukan kepada orang per orang atau pejabat-pejabatnya.

Salah satu kritik Sumitro yang membuat merah panas telinga Presiden ialah sinyalemennya mengenai kebocoran 30 persen dana pembangunan. Dari kasus ini, kian tebal kesan yang tertangkap oleh Sumitro bahwa Soeharto semakin memerintah bak seorang raja. Bila semula Soeharto masih mau memperhatikan kritik-kritik Sumitro, namun dalam sepuluh tahun terakhir sangat terasa bahwa Presiden enggan menggubrisnya lagi, ia terlihat lebih senang memperhatikan ucapan dan kemauan orang-orang semacam Anthony Salim atau Bob Hasan. Dalam tahun-tahun terakhir, advis dari Widjojo cs pun kabarnya sudah tak didengarkan lagi.

Sumitro sesungguhnya sangat menghormati Soeharto sebagai seseorang yang memiliki begitu banyak kecerdasan alamiah. Meskipun hanya mengenyam pendidikan formal terbatas, Soeharto mampu menguasai berbagai persoalan pelik, termasuk masalah ekonomi. “Sewaktu pembahasan dalam penyusunan rencana pembangunan lima tahun pertama bersama para menteri, Presiden lebih banyak mendengar dan mencatat. Namun, pada saat penyusunan rencana pembangunan lima tahun kedua, ia sudah menguasai masalah-masalah ekonomi yang serba kompleks, dan justru para menterinya yang banyak mencatat,” ungkap Sumitro.

Namun bekal kecerdasan alamiah yang luar biasa ditambah dengan kemampuan naluri yang tajam seakan tak ada artinya ketika di kemudian hari, di saat-saat terakhirnya, ia semakin bersikap keras kepala dan menutup telinganya dari saran orang lain, kecuali memperhatikan kepentingan anak-cucu dan suara segelintir cukong.

Banyak sekali persoalan yang telah disampaikan Sumitro kepada Presiden, semata-mata untuk mengingatkan Presiden bahwa tengah terjadi sesuatu yang tidak beres dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, yakni tepatnya sedang berlangsung suatu pengkhianatan terhadap cita-cita kerakyatan!

Sumitro, sekitar dua tahun menjelang kejatuhan Soeharto, sudah mengingatkan bahwa diperlukan kearifan dalam kepemimpinan Presiden Soeharto pada tahap sejarah yang begitu penting bagi Indonesia. “Ada berbagai masalah dalam pemerintahan yang tidak pernah saya dengar tatkala saya masih menjadi menteri. Banyak rakyat yang sudah kesal dengan berbagai rupa ketidakadilan. Rakyat kecil yang selama ini selalu mendapat tekanan dan intimidasi dari penguasa, saat ini sudah mulai menggunakan saluran-saluran di luar hukum untuk menuntut penguasa tersebut. Hal ini membuktikan adanya peningkatan keresahan di hampir seluruh wilayah Indonesia. “Saya percaya, Presiden adalah seorang pemimpin yang sangat cerdas dan rasional. Setiap saat ia memutuskan untuk bertindak, kita akan menyaksikan kesungguhan politik. Namun pertanyaannya ialah apakah orang-orang di sekelilingnya memiliki keberanian untuk secara sungguh-sungguh menyampaikan kepada Presiden mengenai keresahan-keresahan ataupun gangguan-gangguan yang terjadi tersebut,” ujarnya.

Masa tiga tahun terakhir menjelang kejatuhan Soeharto dengan demikian merupakan saat yang kritis, yang ditandai dengan semakin sukarnya Soeharto menerima kritik. Bila Sumitro kelewat keras mengkritik, maka sang anak menantu akan datang kepada Sumitro sembari menyampaikan pesan Presiden.

“Ada apa, Tiek, ada pesan dari Bapak?” begitu biasanya Sumitro langsung menyambut.

“Ya, Bapak bilang, ‘Tiek, mertuamu sudah priyayi sepuh kok masih radikal saja!” ujar Siti Hediyati.

Sumitro tenang saja menerima pesan tersebut, dan justru ia balik berkata, “Ya, saya memang sudah terlalu tua untuk mengubah diri!”

Banyak sekali persoalan yang telah disampaikan Sumitro kepada Presiden, semata-mata untuk mengingatkan Presiden bahwa tengah terjadi sesuatu yang tidak beres dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, yakni tepatnya sedang berlangsung suatu pengkhianatan terhadap cita-cita kerakyatan! Dari hari ke hari Soeharto semakin bertambah kurang senang mendengar tajamnya kritik-kritik yang dilontarkan sang besan, tapi ia tak pernah menunjukkan rasa marahnya terhadap Sumitro. Kata-kata Soeharto tetap halus, walaupun mungkin sedang marah. Ia adalah pribadi yang mampu mengendalikan emosinya dengan sangat baik.

Sumitro tak sungkan pula mengkritik Soeharto ihwal perilaku anak-anak Presiden. “Pak, yang saya dengar dari mana-mana, putra-putri Bapak menjadi masalah politik.” Mendengar kritik tersebut niscaya panas hati Soeharto, namun ketika hendak berpisah toh Soeharto berkata juga kepada Sumitro, “Ya, Pak Mitro, saya menyadari anak-anak sudah menjadi isu politik.” Bagi orang waras, ucapan Soeharto itu mungkin pertanda bahwa yang bersangkutan sudah menyadari kekhilafannya, dan mungkin bisa berharap akan terjadi perbaikan. Namun, betapa kagetnya Sumitro menyaksikan dua pekan setelah pertemuan itu, Soeharto memberikan lagi proyek- proyek lain kepada anak-anaknya!

Hubungan keluarga Sumitro dengan putra-putri Cendana kelak memang tak berjalan mulus. Bahkan Prabowo Subianto telah lama memiliki hubungan yang dingin dan boleh dibilang tegang dengan Bambang, Tutut, Mamiek, dan Tommy. Semua anak Soeharto mendendam kepada Bowo. Cuma Sigit yang sedikit netral, ungkap Sumitro.

Sumitro dalam saat-saat merenung mencoba berusaha memahami mengapa “cinta” Soeharto kepada anak-anaknya sedemikian besarnya. Sumitro akhirnya menemukan jawabannya. Bahwa itu mungkin pengaruh psikologis dari masa kecil Soeharto yang suram, sebagaimana pernah diceriterakan sendiri oleh Soeharto dalam acara lamaran Prabowo-Titiek. Saat itu Soeharto berkisah tentang masa kecilnya yang niscaya membekaskan luka yang dalam pada dirinya. Di usia tiga bulan di dalam kandungan, ibu kandungnya memutuskan untuk meninggalkan hal-hal duniawi: untuk menempuh jalan hidup spiritual, yakni suatu keputusan yang diambil oleh seorang wanita dalam situasi batin yang sangat rumit, lantaran mungkin dikecewakan oleh lelaki. Soeharto pun lantas dibesarkan oleh familinya di Godean. “Ketika ibu angkatnya itu meninggal, Soeharto berkisah bahwa ia datang ke Godean, seraya berkata, ‘Inilah satu-satunya Ibu yang saya kenal’,” ujar Sumitro.

Sewaktu berusia sepuluh tahun, Soeharto jadi rebutan antara orang tua angkatnya dengan ayah kandungnya yang berasal dari lingkungan keraton. Oleh sebab itulah, Soeharto dipindahkan ke Wonosari dan kemudian tinggal bersama keluarga Sudwikatmono. “Wajar kiranya bila Soeharto menganggap Sudwikatmono lebih dari saudara kandung, sehingga semua-semua dikasih ke Sudwikatmono,” tambah Sumitro.

Sumitro berusaha menangkap maksud di balik mengapa Soeharto bercerita tentang masa kecilnya yang suram itu di depan segenap anggota keluarga pada acara lamaran Prabowo-Titiek. Bagi Sumitro ini cukup ganjil mengingat sebelumnya Soeharto pernah memarahi Sugiyanto (eksponen Opsus) lantaran yang bersangkutan mengungkapkan silsilah keluarga Soeharto di suatu majalah, di mana disebutkan bahwa Soeharto memiliki darah bangsawan. “Itu artinya, kamu nggak boleh menegur terlalu keras kalau ia banyak memberi fasilitas kepada anak-anaknya. Ia tak ingin anak-anaknya menderita seperti dia. Apa pun anak-anaknya minta, akan diluluskan,” ujar Ibunda Sumitro coba menjelaskan kepada Sumitro. Ibunda Sumitro sangat memahami perangai Sumitro, kalau tidak suka maka langsung menegur, tanpa peduli.

Hubungan keluarga Sumitro dengan putra-putri Cendana kelak memang tak berjalan mulus. Bahkan Prabowo Subianto telah lama memiliki hubungan yang dingin dan boleh dibilang tegang dengan Bambang, Tutut, Mamiek, dan Tommy. “Semua anak Soeharto mendendam kepada Bowo. Cuma Sigit yang sedikit netral,” ungkap Sumitro. Hal ini sebenarnya wajar bila mengingat bahwa Prabowo mewarisi sikap ayahnya yang kerap bersikap terbuka, bila tidak senang/tidak setuju terhadap sesuatu hal maka langsung mengemukakan rasa ketidak-senangannya itu. Prabowo terutama amat prihatin menyangkut sepak terjang bisnis anak-anak Presiden. Ia pernah menentang pembelian tank dan pesawat lantaran mark-up nya mencapai empat kali lipat dari harga sebenarnya! Prabowo dengan ketus menyebut perbuatan itu sebagai penjarahan! Komentar-komentar tajam semacam ini pastilah menyakiti hati keluarga Soeharto. Tatkala Tutut sangat mendominasi penyusunan kabinet dan keanggotaan MPR/DPR 1997, Prabowo juga bereaksi keras, “Mengapa orang-orang terbaik disingkirkan?”

Cendana marah mengapa Prabowo membiarkan mahasiswa menduduki gedung MPR/DPR, mereka curiga bahwa itu disengaja oleh Prabowo sebagai bagian dari konspirasi untuk menjatuhkan sang raja.

Setiap kali berselisih paham dengan Prabowo, anak-anak Soeharto biasanya segera mengadu kepada ayahanda tercinta: Soeharto.

Padahal, semula Sumitro mengenal putra-putri Soeharto sebagai anak-anak yang “manis”. Pada tahun-tahun awal di mana hubungan keluarga Sumitro-Soeharto masih lancar, Sumitro-lah yang diminta menjadi saksi perkawinan Mamiek. She is a very nice girl,” kata Sumitro mengenai kesannya terhadap Mamiek kala itu. Namun, rupanya waktu telah mengubah segalanya.

Perceraian Prabowo

Reformasi telah meruntuhkan kebahagiaan rumah tangga mereka. Prabowo dianggap membiarkan para demonstran masuk ke gedung DPR RI dengan leluasa. Prabowo juga menganjurkan agar Soeharto turun tahta. Perbedaan sikap tersebut menyebabkan keluarga Soeharto marah kepada Prabowo dan Titik sebagai bagian keluarga Soeharto disuruh berpisah dengan Prabowo.

Tindak-tanduk Sumitro dan keluarga rupanya semakin tidak berkenan di hati keluarga Cendana. Puncaknya adalah peristiwa lengsernya Soeharto pada 21 Mei 1998. Cendana marah mengapa Prabowo membiarkan mahasiswa menduduki gedung MPR/DPR, mereka curiga bahwa itu disengaja oleh Prabowo sebagai bagian dari konspirasi untuk menjatuhkan sang raja. Tutut dan Mamiek marah-marah kepada Prabowo, “Kamu ke mana saja dan mengapa membiarkan mahasiswa menduduki gedung MPR/DPR?” Prabowo dengan sengit balik bertanya apakah ia harus menembaki para mahasiswa itu!

“Dua kali setelah ia lengser saya coba menelepon, namun ia menolak menjawab. Bagi saya, ah, sudahlah peduli amat! Saya memang punya kebiasaan, kalau ada orang yang turun dari jabatan atau dilanda kesulitan, saya undang makan. Dharsono atau Ibnu Sutowo pun pernah saya undang waktu dia dibebaskan dari kedudukan,” tutur Sumitro.

“Prabowo dituduh menggulingkan Habibie karena membela Soeharto, padahal keluarga Soeharto menuduh Prabowo membantu Habibie menggulingkan Soeharto,  dan Prabowo kehilangan orang yang dicintai.”

Hubungan Baik Tetap Terjalin

Meskipun telah berpisah, hubungan baik antara Titik dan Prabowo tetap terjalin. Pada pesta ulang tahun Titik yang ke-55 di kediamannya Jl. Teuku Umar Menteng, Jakarta Pusat, hadir elit parpol, di antaranya Aburizal Bakrie dan Puan Maharani. Yang istimewa, Prabowo pun hadir beserta orang dekatnya Fadli Zon.

Tetap Setia Saling Mendukung

Meskipun telah berpisah, Titik tetap tetap menjaga hubungan harmonis dengan Prabowo. Koalisi Gerindra – Golkar memberikan kesempatan bagi Titik yang kader Golkar. Titik setia mendampingi setiap kegiatan Prabowo. Tantowi Yahya dan anggota tim yang mendampingi melihat bahwa masih tetap ada benih cinta di antara mereka.

Doa Selebritis dan Politisi agar Titik Prabowo Rujuk Kembali Bersama

Artis dangdut Camelia Malik Jumat 20 Juni 2014 menyatakan bahwa dia mendoakan pasangan ini kembali bersama. Saya dukung Prabowo, Titik Soeharto juga dukung Prabowo. Mereka punya anak satu dan sama-sama masih sendiri.

Jumat 23 Mei 2014, Cawapres Hatta Rajasa mendokan Prabowo Titiek rujuk kembali. Ketua Umum DPP PUAN (Perempuan Amanat Nasional) Erwina Yunarti mengatakan "Demi anak bangsa negara. Saya sudah bicara dengan Ibu Titiek, beliau hanya tersenyum saja, ya kita kan senang kalau melihat orang senang. Ibu Titiek tidak 'neko-neko' kok orangnya,"

Wakil Sekjen Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mahfudz Siddiq mendoakan khusus hubungan capres Prabowo Subianto dan mantan isterinya Putri Presiden RI kedua Soeharto, Siti Hediati Haryadi, yang akrab disapa Titiek Soeharto bisa rujuk kembali.
"Kekuasaan dan jodoh itu sama-sama rahasia Allah. Bisa saja kedua hal tersebut diberikan bersamaan pada seseorang. Insya Allah," tulis Mahfudz pada akun Twitternya @MahfudzSiddiq, Ahad (8/6) malam.

Dikabarkan telah rujuk

Dalam rapimnas FKPPI di JCC Jakarta 3 Juni 2014, Prabowo dipertemukan dengan mantan isteri. Prabowo menyebut rasa terima kasih kepada bukan karena ada sang istri yang juga anggota FKPPI. Seisi ruangan menjadi riuh. Beredar kabar keduanya telah rujuk di Gresik, tetapi Prabowo enggan mengomentarinya. Dalam pertemuan tersebut, Prabowo cipika cipiki dengan sang mantan isteri.

Dikabarkan Prabowo pernah mengatakan bahwa ia mengucapkan kata “May” mengenai kapan ia akan menikah. Apakah Mei itu berarti bulan Mei ataukah mungkin.

Titik Prabowo Bakal Rujuk

Mahfud MD, Ketua Tim Sukses Prabowo menyatakan bahwa dalam waktu dekat Prabowo Titik akan rujuk. Informasi ini 56% benar, kata Mahfud saat peresmian kantor MMD Initiative di Bengkulu, Jumat, 20 Juni 2014.

Sebelumnya, tanda-tanda rujuk banyak diberitakan. Misalnya, pada waktu ziarah di Astana Bangun 8 Juni 2014, Prabowo yang ditemani putranya Didit Hedi Prasetyo, bertemu Titik bersama mbak Tutu. Keduanya langsung cipika cipiki yang menimbulkan spontanitas tepuk tangan dan teriakan “Allohu Akbar” oleh hadirin.

Penulis
Kategori Budaya

←LamaBaru →