Ghobro » saran

Perbandingan Barisan Nasional dengan Koalisi Merah Putih

Dimuat
Komentar Tak-satupun

Soliditas Koalisi Merah Putih masih tidak pasti, padahal jika koalisi ini permanen, akan menjadi penyeimbang yang kokoh. Seandainya koalisi ini permanen, KMP bisa jadi akan menjadi seperti Barisan Nasional di Malaysia, Koalisi yang secara terus menerus memerintah Malaysia dari mulai merdeka hingga saat ini. Bagaimana perbandingan Barisan Nasional dengan Koalisi Merah Putih?

Susunan Barisan Nasional

Barisan Nasional berdiri pada tahun 1973 sebagai kelanjutan Parti Perikatan (Alliance). Pada tahun 2003, partai-partai yang tergabung dalam Barisan Nasional adalah :

  1. Pertubuhan Kebangsaan Melayu Bersatu (UMNO)
  2. Persatuan Cina Malaysia/Malaysian Chinese Association (MCA)
  3. Kongres India Malaysia / Malaysian Indian Congress (MIC)
  4. Parti Gerakan Rakyat Malaysia (GERAKAN)
  5. Parti Progresif Penduduk (PPP)
  6. Parti Pesaka Bumiputera Bersatu (PBB)
  7. Parti Rakyat Bersatu Sarawak / Sarawak United People's Party (SUPP)
  8. Parti Bersatu Sabah (PBS)
  9. Parti Liberal Demokratik / Liberal Democratic Party (LDP)
  10. Parti Bersatu Rakyat Sabah (PBRS)
  11. Pertubuhan Pasokmomogun Kadazandusun Murut Bersatu / United Pasokmomogun Kadazandusun Murut Organisation(UPKO)
  12. Parti Demokratik Progresif Sarawak / Sarawak Progressive Democratic Party (SPDP)
  13. Parti Rakyat Sarawak (PRS)

Barisan Nasional berlawanan dengan kekuatan Pakatan Rakyat yang belum diakui hukum Malaysia sehingga oleh Barisan Nasional disebut “Pakatan Haram”. RoS mengharuskan nama koalisi ini “Pakatan Rakyat Malaysia”.

Karenanya Pakatan Rakyat dalam Pemilu Malaysia masih merupakan koalisi non-resmi yang terdiri dari partai-partai yang masih terdaftar individual, yakni :

  1. Parti Keadilan Rakyat (PKR)
  2. Parti Tindakan Demokratik / Democratic Action Pary (DAP)
  3. Parti Islam se-Malaysia.

Susunan Koalisi Merah Putih

Koalisi Merah Putih didirikan pada tanggal 14 Juli 2014 yang terdiri dari :

  1. Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra)
  2. Partai Golongan Karya (Golkar)
  3. Partai Demokrat
  4. Partai Amanat Nasional (PAN)
  5. Partai Persatuan Pembangunan (PPP)
  6. Partai Keadilan Sejahtera (PKS)
  7. Partai Bulan Bintang (PBB)

Koalisi Merah Putih berhadapan dengan partai-partai pendukung Jokowi –Kalla, yakni :

  1. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP)
  2. Partai Nasional Demokrat (Nasdem)
  3. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)
  4. Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura)
  5. Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI)

Kekuatan Barisan Nasional dan Pakatan Rakyat Malaysia

Barisan Nasional mendominasi Dewan Rakyat Malaysia dengan perbandingan 133 kursi melawan 89 kursi Pakatan Rakyat. Oleh karenanya, Barisan Nasional memegang pucuk pimpinan Dewan Rakyat, yang susunannya sebagai berikut :

  1. Speaker (Yang Dipertua Dewan Rakyat) : Pandikar Amin Mulia (Barisan Nasional – UMNO)
  2. Perdana Menteri : Mohd Najib bin Abdul Razak (Barisan Nasional – UMNO)
  3. Ketua Pembangkang : Anwar Ibrahim (Pakatan Rakyat – PKR).

Barisan Nasional juga mendominasi Dewan Negara Malaysia dengan perbandingan 56 kursi Barisan Nasional, 8 kursi Pakatan Rakyat dan 6 kursi Bebas (Independen).  Senator Abu Zahar Ujang (Barisan Nasional – UMNO) menjadi Yang Dipertua Dewan Negara (speaker).

Di Dewan Undangan Negeri Barisan Nasional menguasai 330 kursi, sementara Pakatan Rakyat 240 kursi, dan menyisakan 6 kursi untuk independen.

Kekuatan Barisan Nasional di Negeri

Barisan Nasional menguasai 9 dari 13 negeri.

  1. Johor (Menteri Besar Dato’ Seri Mohamed Khaled Nordin : BN – UMNO)
  2. Kedah (Menteri Besar Dato’ Seri Mukhriz Mahathir : BN –UMNO ) direbut dari PR-PAS 6 Mei 2013
  3. Melaka ( Ketua Menteri Datuk Idris Haron : BN-UMNO).
  4. Pahang (Menteri Besar Datuk Seri Adnan Yaakob : BN-UMNO)
  5. Perak (Yang Dipertua S.K.Devamany :BN-MIC, Menteri Besar Zambry Abdul Kadir : BN-UMNO)
  6. Perlis (Menteri Besar Azlan Man : BN-UMNO)
  7. Negeri Sembilan (Yang Dipertua Razak Mansor : PR-UMNO, Menteri Besar Datuk Mohamad Haji Hasan : BN-UMNO)
  8. Terengganu (Menteri Besar Datuk Ahmad Razif Abdul Rahman : BN-UMNO)
  9. Serawak (Yang Dipertua Pehin Sri Haji Abdul Taib bin Mahmud : BN-PBB, Ketua Menteri Adenan Hj. Satem : BN-PBB)
  10. Sabah (Yang Dipertua Saleh Said Keruak : BN-UMNO, Ketua Menteri Musa Aman : BN-UMNO).

Pakatan Rakyat menguasai 4 dari 13 negeri yaitu :

  1. Kelantan (Yang Dipertua Abdullah Yaakub /PR-PAS, Menteri Besar : Datuk Ahmad Yakub /PR-PAS).
  2. Pulau Pinang (Yang Dipertua Abdul Halim Hussain : PR-PAS, Ketua Menteri Lim Guan Eng : PR-DAP).
  3. Selangor (Yang Diperuta Teng Chang Kim : PR-DAP, Menteri Besar Abdul Khalid Ibrahim : PR-PKR).

Kekuatan Koalisi Merah Putih di Pusat

Koalisi Pro Jokowi menguasai eksekutif Presiden Joko Widodo, Wapres Jusuf Kalla.

Sementara Koalisi Merah Putih diprediksi memegang legislatif dengan kursi 353 kursi berbanding 207 kursi partai-partai pro jokowi.  Ketua DPR dibawah Golkar dengan calon Fadel Muhammad/Setya Novanto dan Ketua MPR di bawah Demokrat dengan calon Edhie Baskoro Yudhoyono/Dede Yusuf Macan Effendi.

Kekuatan Koalisi Merah Putih di Daerah

Jumlah gubernur koalisi merah putih :

  1. Sumatera Utara, Gatot Pujo Nugroho, PKS
  2. Sumatera Barat, Irwan Prayitno, PKS.
  3. Riau, Annas Maamun, Golkar.
  4. Jambi, Hasan Basri Agus, Demokrat.
  5. Sumatera Selatan, Alex Noerdin, Golkar.
  6. Bengkulu, Junaidi Hamsyah, Demokrat.
  7. Lampung, Muhammad Ridho Ridho Ficardo, Demokrat.
  8. Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, Gerindra.
  9. Jawa Barat, Ahmad Heryawan, PKS.
  10. Jawa Timur, Soekarwo, Demokrat.
  11. Bali, I Made Mangku Pastika, Demokrat.
  12. NTB, Muhammad Zainul Majdi, Demokrat.
  13. Kalsel, Rudy Arifin, PPP.
  14. Kaltim, Awang Faroek Ishak, Golkar.
  15. Sulut, SH Sarundajang, Demokrat.
  16. Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, Golkar.
  17. Sultra, Nur Alam, PAN.
  18. Gorontalo, Rusli Habibie, Golkar.
  19. Sulbar, Anwar Adnan Saleh, Golkar.
  20. Maluku, Ir.H.Said Saleh Assagaff, PNS.
  21. Maluku Utara, Abdul Ghani Kasuba, PKS.
  22. Papua, Lukas Enembe, Demokrat.

Jumlah Gubernur Partai Jokowi :

  1. Bangka Belitung, Rustam Effendi, PDIP.
  2. Kepulauan Riau, Muhammad Sani, PDIP.
  3. Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, PDIP.
  4. Banten, Rano Karno, PDIP.
  5. NTT, Frans Lebu Raya, PDIP.
  6. Kalimantan Barat, Cornelis, PDIP.
  7. Kalimantan Tengah, Agustin Teras Narang, PDIP.

Gubernur Independen :

  1. Aceh, Zaini Abdullah, Partai Aceh.
  2. Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X, ningrat.
  3. Kaltara, Irianto Lambrie, PNS.
  4. Sulteng, Longky Djanggola,PNS.
  5. Papua Barat,Abraham Octavianus Atururi,ABRI.

Semoga solid

Terjangan utama bagi Koalisi Merah Putih tentu saja adanya kaum-kaum oportunis di tubuh partai pendukung. Di antara partai pendukung yang paling solid adalah PKS, dan kemudian Gerindra. SBY telah menyadari kerugian menampung oportunis sehingga mempersilakan kaum oportunis pindah dari Demokrat sebelum pemilu. Tetapi, keputusan untuk bergabung dengan KMP tidak dilakukan SBY secara formal. Sikap ini mengundang tanda tanya, apakah Demokrat akan membuka bendera sendiri atau tetap di KMP.

Citra PPP sebagai wadah oportunis telah terbuka ke umum ketika Hamzah Haz bersedia menjadi wapres Megawati padahal PPP adalah partai yang mempelopori fatwa haram Presiden perempuan. Sikap Hamzah Haz ini melunturkan fanatisme simpatisan sehingga partai PPP terancam partai yang karam. Oportunisme PPP semakin tajam terlihat, misalnya melalui sikap Majelis Syariah yang seakan-akan menggoyang dukungan PPP ke KMP. Apakah kubu Ahmad Yani dkk akan berhasil bertahan?

PAN yang mulanya dikenal sebagai partai reformis dan representasi Muhammadiyah telah lama jatuh citra. Sebagai partai terkorup kedua, PAN berusaha bangkit dengan memanfaatkan artis. Politisi muda PAN membangkitkan ide konfederasi. Tetapi, sikap sebagian pengurus PAN masih terlihat oportunis dan pragmatis. PAN tersebut salah satu partai yang diisukan goyah.

Pertarungan antara kubu Akbar Tanjung yang berhasil menyelamatkan Golkar dari krisis kepercayaan pada era reformasi dan mengantarkan Golkar sebagai pemenang pemilu 2004 berhadapan dengan kubu kino Suhardiman yang berhasil mengkudeta Akbar di Bali di bawah Ketum Jusuf Kalla dengan akibat Golkar mengalami penurunan suara. Perebutan tahta oleh Aburizal Bakrie memunculkan partai baru Nasdem, tapi Ical berhasil menaikkan total suara Golkar. Tetapi faksi Suhardiman terus menggoyang Ical melalui isu pergantian kepemimpinan. Apakah kubu Akbar Tanjung, Ical, Fadel dkk berhasil bertahan?

Semoga KMP dengan mayoritas kursi di DPR dan mayoritas eksekutif di daerah dapat tetap solid untuk menghadirkan “pertarungan politik” yang lebih bermutu.

Penulis
Kategori Demokrasi, Organisasi

←LamaBaru →