Ghobro » saran

Potensi Pariwisata Tambelan masih terkubur

Dimuat
Komentar Tak-satupun

Kepulauan Tambelan memiliki potensi pariwisata laut, perikanan dan terumbu karang karena memiliki pasir pantai yang putih bersih. Pulau-pulau di Tambelan juga indah dan memiliki gua-gua yang menarik bagi petualang. Pulau-pulau tersebut masih banyak yang perawan, karena dari 54 buah pulau yang ada, hanya 9 pulau yang berpenghuni.

Pulau Tambelan sebelumnya dikenal dengan nama Pulau Sabda. Nama tersebut tercatat dalam sejarah masih disebutkan pada tahun 1623 ketika rombongan Sultan Johor VII, Sultan Abdullah Muayat Syah tiba. Nama Tambelan bermula pada Perang Riau (1782-1784). Pada masa perang bahari rakyat Riau yang dipimpin oleh Yang Dipertuan Muda Riau IV Raja Haji Fisabilillah ibni Daeng Celak Marhum Ketapang, sangat besar jasa Datuk-datuk Pulau Tujuh, yakni Orang Kaya Jemaja, Orang Kaya Siantan,   Orang Kaya Pulau Laut, Orang Kaya Serasan, Orang Kaya Subi dan Orang Kaya Pulau Sabda. Karena jasanya merebut meriam-meriam dari kapal perang Belanda, Orang Kaya Pulau Sabda diberi gelar oleh Sultan Mahmud Syah III yakni Datuk Petinggi Timbalan Riau Maharaja Lela Setia. Lela berarti meriam, timbalan berarti wakil. Sebelum menghadap Sultan Riau, para datuk pulau tujuh harus berkumpul dulu di Pulau Sabda untuk menghormati Datuk Timbalan. Sejak itulah pulau ini disebut Pulau Timbalan.

Sebenarnya nama asal Tambelan adalah Kandil Bahar yang bermakna lampu laut. Nama tersebut sekarang hanya diabadikan untuk lapangan di depan Masjid Raya Baiturrahmat Tambelan.

Sampai tahun 2010, Tambelan berpenduduk 6.139 jiwa terdiri dari 3.080 pria dan 3.059 wanita. Penduduk usia kerja mencapai 55,28% dari penduduk dengan angka ketergantungan 0,81%. Jumlah pengangguran cukup besar, yakni 59,57 % dari angkatan kerja. Penyerapan tenaga kerja terbesar yakni  62,9% di bidang pertanian. 97,7% penduduk beragama Islam, sisanya 2,24% Budha dan 0,05% Kristen.

Pulau Tambelan secara geografis terletak pada koordinat 0°59'44"N 107°28'38"E, memiliki total luas daratan 117.480 ha.  Kecamatan ini merupakan kecamatan tersendiri yang terpisah jauh dari kecamatan-kecamatan lain di Kabupaten Bintan. Secara geografis, Tambelan lebih dekat ke Kalimantan daripada ke Tanjung pinang. Namun, ketika terjadi pemekaran kabupaten Kepri, Tambelan memutuskan untuk tetap bergabung dengan Kabupaten Kepri. Alasannya, karena dari Anambas saja, jarak ke Tanjungpinang lebih dekat daripada ke Natuna. Apalagi dari Tambelan yang masih setengah perjalanan dari Anambas jika ke Natuna. Selain itu, tidak ada jalur perhubungan laut dari Tambelan ke Natuna. Pada saat pemekaran terjadi, dari Tambelan ke Tanjungpinang seminim-minimnya masih bisa ditempuh dengan menggunakan kapal ikan atau kapal pengangkut kelapa.

Dari Tanjungpinang dapat ditempuh dengan perahu selama 14 jam dan dari Pontianak selama 6 jam.

Sulitnya transportasi tersebut telah coba diatasi dengan pembuatan lapangan terbang. Namun Ketua Komisi II DPRD Bintan menolak karena menilai tidak efetik. Untuk membangun lapangan terbang dibutuhkan biaya Rp. 300 milyar. Sementara bandara tersebut hanya bisa didarati pesawat kecil dengan penumpang belasan orang.

Menurut Zul, lebih baik Pemkab Bintan dan Pemprov Kepri mengadakan kapal cepat berbahan aluminium atau besi yang dirancang untuk angkutan penumpang dan barang. Dengan anggaran Rp. 50 M, bisa diadakan beberapa kapal sehingga dalam 2 minggu dapat berlayar 3 kali.

Meskipun Tambelan indah dan menarik untuk dikunjungi, tetapi masih sulit dicapai, entah sampai kapan.

Penulis
Kategori Budaya, Ekonomi

←LamaBaru →