Ghobro » saran

Tantangan Koalisi Merah Putih makin berat

Dimuat
Komentar Tak-satupun

Jempol bagaimanapun harus diacungkan kepada Koalisi Merah Putih yang sampai hari ini masih bertahan. Keputusan MK yang menolak gugatan Prabowo Hatta dinilai akhir dari perjuangan koalisi ini. Politisi yang oportunis dari partai pendukung akan menggoyang dari dalam. Tetapi, hingga hari ini, Koalisi Merah Putih masih belum bubar dan tetap masih eksis.

Tetapi, tantangan bagi Koalisi Merah Putih masih tetap kuat. Apa saja?

Konflik internal

Masyarakat dari pendukung Merah Putih berharap agar koalisi ini dapat  permanen hingga ke daerah. Keberhasilan pimpinan koalisi yang sepertinya menemukan semangat yang sama, diharapkan dapat menular ke bawah. Tetapi, realisinya, sejumlah DPRD yang terbentuk masih merupakan fraksi-fraksi berbasis partai yang ada.

Tidak adanya upaya mengikat ke bawah ini akan memberi dampak bagi pertarungan kepentingan internal partai, yakni :

  1. Perebutan posisi di legislatif, baik untuk tingkat pimpinan maupun komisi
  2. Persaingan kepentingan di legislatif
  3. Persaingan kepemimpinan eksekutif di daerah

Goyangan oportunis

Praktik pragmatisme dalam perpolitikan di Indonesia, yang mengutamakan “politisi jadi” daripada mengembangkan kader menyebabkan munculnya oportunisme yang menggoyangkan ideologi partai. Oportunisme menyebabkan lemahnya ikatan antara partai dengan konstituen, sehingga money politic dan politik balas budi meraja lela. Dengan kondisi politik yang rusak tersebut, memiliki akses ke sumber daya merupakan kata kunci untuk memenangkan persaingan. Dan oportunis yang merasa ada peluang, akan menggoyang soliditas internal partai.

Serangan Opini

Oposisi adalah kemutlakan dalam demokrasi. Tetapi hingga saat ini, budaya oposisi belum pernah tersosialisasi di Indonesia. Oposisi yang lemah dan kurang cerdas oleh PDIP pada masa jabatan pertama SBY hingga Megawati sendiri menjadi frustasi dan kapok beroposisi menjadi alasan kenapa oposisi kurang diterima.

30 tahun orde baru menciptakan image bahwa berseberangan dengan pemerintah adalah tindakan tidak terpuji. Kata “pembangkangan” yang di Malaysia digunakan sebagai pengganti kata oposisi dikaitkan dengan separatisme dan penentangan terhadap pelaksanaan UUD ‘45 dan Pancasila yang konsekwen. Tradisi oposisi dianggap sebagai budaya politik barat yang liberalis yang bertentangan dengan budaya timur yang santun. Para kritisi diasosiasikan dengan orang yang memiliki hati yang tidak bersih, yang tidak mampu legawa dan bersifat merusak.

Beroposisi yang cerdas dan kuat

Sebenarnya oposisi dalam masa jabatan kedua SBY cukup berhasil yang terlihat dalam Pileg lalu. Dukungan dari Gerindra, Hanura, Golkar, PKS dan Nasdem menyebabkan oposisi ini kuat. Dalam masa jabatan kedua SBY ini ada tiga kelompok oposisi :

  1. Oposisi yang merupakan partai di luar pemerintah, yakni PDIP, Gerindra, Hanura.
  2. Oposisi yang merupakan partai koalisi pemerintah, yakni Golkar dan PKS.
  3. Oposisi yang belum merupakan partai resmi, yakni Nasdem.

Ketiga kelompok tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri. Nasdem sebagai partai yang belum memiliki perwakilan tentu saja hanya mampu beroposisi dengan cara membentuk opini. Partai non-pemerintah bisa dicap barisan sakit hati, sementara partai pemerintah dicap pengkhianat.

PDIP, Gerindra, Golkar dan Nasdem telah menikmati hasilnya. Penentangan atas kebijakan pemerintah dalam menaikkan BBM dan kebijakan-kebijakan pemerintah yang dianggap menguntungkan pengusaha telah mengorbitkan citra PDIP sebagai partai wong cilik.  Gerindra yang juga mencitrakan dirinya sebagai marhaenis, anti neolib juga ikut terkatrol. Golkar selain identik dengan kalangan menengah ke atas, juga dianggap partai yang paling mampu melindungi kepentingan daerah. Sementara Nasdem dianggap partai yang mampu mendukung gagasan dan ide-ide perbaikan yang tidak bisa dijalankan oleh kabinet SBY.

Jangan jauhkan dari citra partai

Sebagai partai yang tumbuh besar dalam pemilu 2004 dan 2008, PKS memiliki musuh yang paling banyak. Serangan dari segi ideologi dan tuduhan munafik yang kemudian terbukti dengan dugaan korupsi LHI adalah sebab utama kemunduran pendukung partai ini. Oposisi yang dilakukan dalam kasus BBM tidak berpengaruh banyak, karena naiknya nama partai ini oleh jargon mereka bersih dan profesional, sebagai lawan dari PDIP yang pada masa Megawati dipenuhi kasus dan ketidakberesan. Dalam periode terakhir, sikap PKS dalam membela umat Islam tidak terlihat nyata, tidak seperti periode-periode sebelumnya yang PKS bisa mengumbar nama sebagai pembela Palestina.

Partai Hanura tidak didukung oleh kader yang kuat dalam oposisinya. Politisi yang vokal yang terkenal dari partai ini pun telah menyeberang ke Partai Nasdem, sehingga kemudian ikut memperkuat citra Nasdem. Sebagai oposisi, tidak terlihat apa yang diperjuangkan Hanura, selain untuk mengusung Ketua Umumnya Wiranto menjadi presiden. Hanya dukungan MNC grouplah yang menyelamatkan Hanura, sehingga pantas partai ini menyatakan kapok menjadi oposisi sebagaimana yang pernah diungkapkan Megawati.

Dalam Pemilu Legislatif 2014, banyak isu bahwa money politic adalah seperti kentut, tercium baunya tetapi tidak jelas barang buktinya. Dalam Pilpres 2014, kemenangan Jokowi dapat dianggap sebagai akibat Prabowo yang dianggap representatif SBY yang gagal dan jaim dan jauh dari masyarakat. Artinya, oposisi telah berhasil menjatuhkan citra SBY dan pilpres menjadi menarik karena dapat dianggap sebagai awal bangkitnya pertarungan ideologi, visi misa dan citra dan sekedar pertarungan uang dan jabatan.

Koalisi Merah Putih telah berangkat dari ideologi dan fanatisme dukungan dengan selisih kekalahan yang tidak banyak yang jika dilanjutkan dengan cerdas akan menjadikan partai-partai Merah Putih menjadi partai pemenang yang gemilang di 2014. Kader-kader partai merah putih dan relawan prabowo hatta telah berhasil menanamkan image Merah Putih sebagai koalisi yang nasionalis, profesional dan mendukung ide inovatif demi kemajuan bangsa. KMP tinggal merawat dan memupuknya hingga subur dan membesar.

Penulis
Kategori Demokrasi, Strategy

←LamaBaru →